Mataram (ANTARA) - Perayaan malam takbiran di Kota Mataram tahun ini menghadirkan lanskap sosial yang tidak lazim. Gema takbir tetap mengalun, tetapi hadir dalam dua waktu berbeda.
Sebagian umat telah mengumandangkannya lebih awal pada Kamis malam, 19 Maret 2026, sementara sebagian lainnya baru melaksanakannya pada Jumat malam, 20 Maret 2026.
Perbedaan ini bukan sekadar variasi waktu, melainkan refleksi dari dinamika keberagaman dalam satu ruang sosial yang sama.
Kondisi tersebut semakin kompleks karena beririsan dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Takbiran tidak hanya menjadi ekspresi religius umat Islam dalam menyambut Idul Fitri, tetapi juga berhadapan langsung dengan tradisi hening umat Hindu.
Situasi ini menjadikan takbiran sebagai ruang uji bagi kedewasaan sosial, kemampuan mengelola perbedaan, dan praktik toleransi yang konkret.
Perbedaan penetapan Idul Fitri melahirkan dua wajah takbiran. Bagi sebagian umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, malam takbiran berlangsung berdekatan dengan suasana Nyepi.
Dalam konteks ini, takbir tidak hadir dalam bentuk euforia yang lepas, melainkan lebih tertahan, reflektif, dan menyesuaikan diri dengan ruang yang sedang dijaga dalam keheningan.
Sementara itu, mayoritas masyarakat yang mengikuti penetapan pemerintah melaksanakan takbiran setelah rangkaian Nyepi berakhir. Ruang ekspresi menjadi lebih terbuka, pawai digelar, dan gema takbir kembali memenuhi jalan-jalan kota.
Dua waktu ini memperlihatkan bahwa takbiran bukan praktik yang kaku, melainkan tradisi yang lentur dan mampu beradaptasi dengan konteks sosial yang beragam.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan internal umat tidak harus menjadi sumber ketegangan. Sebaliknya, ia dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun sikap saling menghormati. Mataram memberikan contoh bahwa keberagaman dapat dikelola tanpa kehilangan esensi kebersamaan.
Upaya menjaga harmoni tidak terjadi secara spontan. Pemerintah kota mengambil langkah antisipatif dengan membagi pelaksanaan pawai takbiran ke enam kecamatan.
Rute diatur agar tidak melintasi kawasan umat Hindu, khususnya wilayah yang menjadi bagian dari pelaksanaan Nyepi. Kebijakan ini mencerminkan kesadaran bahwa ruang publik harus dikelola secara adil dan inklusif.
Sebanyak 90 personel Satpol PP dikerahkan untuk menjaga ketertiban, didukung oleh keterlibatan panitia dan masyarakat. Pembatasan jumlah peserta, pengaturan waktu hingga pukul 22.00 Wita, serta larangan penggunaan petasan menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dan kenyamanan bersama.
Langkah-langkah ini menegaskan bahwa harmoni tidak hanya dibangun melalui niat baik, tetapi juga melalui pengelolaan yang terukur.
Di tingkat masyarakat, toleransi hadir dalam tindakan-tindakan sederhana namun bermakna. Penyesuaian rute, pengendalian volume suara, hingga keputusan untuk tidak berkonvoi menjadi bentuk nyata dari kesadaran kolektif.
Bahkan penggunaan panggung yang sebelumnya dipakai untuk pawai ogoh-ogoh lalu dimanfaatkan untuk takbiran menjadi simbol kuat berbagi ruang antartradisi.
Di balik euforia, terdapat tanggung jawab yang tidak ringan. Volume sampah yang diperkirakan mencapai 8 hingga 9 ton menunjukkan bahwa setiap perayaan membawa konsekuensi lingkungan. Sebanyak 325 petugas kebersihan disiagakan, diperkuat dengan langkah edukatif melalui pembagian kantong sampah kepada peserta.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dengan pelibatan aparat gabungan. Hal ini menegaskan bahwa takbiran telah berkembang menjadi peristiwa sosial yang kompleks, yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Makna takbiran seharusnya tidak berhenti pada perayaan. Ia merupakan refleksi nilai setelah sebulan berpuasa, yakni tentang kedisiplinan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama. Pertanyaan pentingnya adalah sejauh mana nilai-nilai tersebut tercermin dalam perilaku kolektif.
Pengelolaan takbiran ke depan perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih edukatif dan partisipatif. Keterlibatan generasi muda, penguatan pesan sosial, serta inovasi berbasis komunitas menjadi kunci agar tradisi ini tetap hidup sekaligus relevan.
Perbedaan cara dan waktu merayakan kemenangan tidak mengurangi makna yang dibawa. Takbir yang hadir dalam sunyi maupun riuh tetap bermuara pada nilai yang sama.
Harmoni yang tampak di Mataram tahun ini menegaskan bahwa kebersamaan bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya, melainkan hasil dari kesadaran untuk saling menjaga, menghormati, dan berbagi ruang.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB : Ogoh-Ogoh Mataram di simpang makna dan toleransi
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketika alam menguji Lebaran di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - THR NTB: Kesenjangan di balik euforia Lebaran
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB : Tarif mudik melampaui batas di NTB
COPYRIGHT © ANTARA 2026