Mataram, NTB (ANTARA) - Keberadaan Geopark Rinjani-Lombok telah diakui UNESCO sebagai Global Geopark sejak 2018, sehingga Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kian menegaskan posisinya sebagai destinasi unggulan berbasis konservasi alam.

Kawasan Geopark Rinjani bukan sekadar bentang alam vulkanik, tetapi juga “museum alam” hidup yang merekam sejarah bumi, budaya lokal, dan interaksi manusia dengan lingkungan secara berkelanjutan.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan Rinjani adalah warisan dunia yang harus dijaga secara ketat lantaran memiliki nilai ekologis, geologi, dan budaya yang tinggi.

Ia mengatakan Rinjani bukan sekedar destinasi wisata. Ini adalah identitas, sumber kehidupan, sekaligus bagian dari warisan dunia. Tidak boleh ada kompromi terhadap kelestariannya

Bahkan pada 2 Mei 2026 Pemprov NTB telah meresmikan Pusat Informasi Geopark Rinjani di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Fasilitas itu berfungsi sebagai pusat data dan pengetahuan terintegrasi yang menghubungkan aspek geologi, sejarah, budaya, hingga kehidupan masyarakat di kawasan Rinjani.

 Gubernur Iqbal menuturkan arah kebijakan pengelolaan taman bumi tidak sekadar mempertahankan status dalam jaringan UNESCO Global Geopark, tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaan dengan tetap mengedepankan prinsip konservasi.

Secara geologis, kawasan ini terbentuk dari letusan dahsyat Gunung Samalas pada tahun 1257, yang menciptakan kaldera luas dengan Danau Segara Anak di dalamnya.

Fenomena ini menjadikan Geopark Rinjani sebagai laboratorium alam terbuka yang menyimpan catatan penting evolusi bumi sekaligus perubahan iklim global pada masa lampau. 

Dari perspektif akademisi, berbagai penelitian menempatkan Geopark Rinjani sebagai contoh nyata integrasi antara pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Studi oleh akademisi Universitas Mataram menunjukkan bahwa pengelolaan geopark telah diselaraskan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan pariwisata berbasis edukasi. 

Lebih jauh, penelitian lain menegaskan bahwa geopark bukan hanya kawasan konservasi, tetapi juga instrumen pembangunan sosial-ekonomi. Melalui pendekatan geowisata, masyarakat lokal dilibatkan dalam produksi kerajinan, homestay, hingga interpretasi geologi yang memperkaya pengalaman wisatawan. 

Model Kolaborasi

Hal ini menjadikan Geopark Rinjani sebagai model kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga internasional.

Konsep “museum alam” dalam geopark tercermin dari keberadaan situs-situs geologi, keanekaragaman hayati, serta budaya masyarakat Sasak yang masih lestari.

Tidak seperti museum konvensional, Geopark Rinjani menghadirkan pengalaman langsung kepada pengunjung untuk memahami proses geologi, ekologi, dan budaya dalam satu kesatuan ruang hidup. Pendekatan ini diperkuat melalui geotrail dan interpretasi geowisata yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran lingkungan. 

Dalam konteks global, pengakuan UNESCO terhadap Geopark Rinjani tidak diperoleh secara instan. Proses panjang diplomasi dan evaluasi internasional menuntut keterlibatan multi-pihak serta pemenuhan standar konservasi yang ketat.

Penelitian hubungan internasional menunjukkan bahwa Indonesia harus memenuhi berbagai rekomendasi UNESCO, termasuk penguatan tata kelola, edukasi publik, dan partisipasi masyarakat sebelum akhirnya memperoleh status global tersebut. 

Namun demikian, tantangan tetap ada. Studi tentang pariwisata berkelanjutan mengingatkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan berpotensi menimbulkan degradasi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Sampah, tekanan terhadap ekosistem, dan risiko kerusakan alam menjadi isu yang perlu diantisipasi melalui kebijakan yang adaptif dan berbasis riset. 

Daya Tarik Wisata

Di sisi lain, tingginya minat wisatawan menunjukkan bahwa Geopark Rinjani memiliki daya tarik global yang kuat. Kawasan ini dikunjungi ratusan ribu wisatawan setiap tahun, menjadikannya salah satu ikon pariwisata alam Indonesia yang kompetitif di tingkat internasional. 

Dengan segala potensinya, Geopark Rinjani bukan hanya kebanggaan “Bumi Gora”, tetapi juga representasi komitmen Indonesia dalam menjaga warisan bumi untuk generasi mendatang.

Geopark Rinjani berdiri sebagai bukti bahwa pelestarian alam tidak harus bertentangan dengan pembangunan, melainkan dapat berjalan beriringan melalui pendekatan ilmiah, partisipatif, dan berkelanjutan.

Sebagai museum alam dunia, Geopark Rinjani mengajarkan bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan ruang belajar yang harus dijaga. Dari kaldera purba hingga budaya lokal yang hidup, semuanya menjadi narasi besar tentang hubungan harmonis antara manusia dan bumi—sebuah pesan yang kini diakui dan dijaga bersama oleh dunia melalui UNESCO.

Baca juga: Konservasi prioritas utama pengelolaan Geopark Rinjani
Baca juga: Geopark Rinjani di NTB kembali kantongi Kartu Hijau dari UNESCO
Baca juga: Pengelola Geopark Rinjani mendorong kopi lokal jadi tujuan wisata pendaki

 




Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026