Mataram (ANTARA) - Kaki Gunung Rinjani di Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), setiap musim libur selalu menjadi magnet wisatawan domestik. Libur Lebaran 2026 menunjukkan tren ini dengan pengunjung yang datang dari Jakarta, Bali, Sumbawa, hingga daerah lokal.
Sejak 21 Maret, penginapan dan destinasi favorit seperti Bukit Pergasingan dan Bukit Anak Dara telah penuh terisi, bahkan beberapa mencatat “full booked” selama satu minggu.
Lonjakan kunjungan ini menegaskan posisi Sembalun sebagai destinasi unggulan di NTB sekaligus menjadi pendorong ekonomi lokal.
Pelaku usaha, seperti H. Aras dari Tangga Bungalow, menyatakan bahwa paket penginapan mulai Rp250.000–Rp550.000 dan rencana pengembangan restoran lokal meningkatkan daya tarik kawasan sebagai destinasi keluarga.
Namun, lonjakan wisatawan menimbulkan tantangan, khususnya keselamatan dan infrastruktur. Jalanan yang ramai dilintasi skuter dan sepeda listrik masih minim penerangan, menuntut penataan wilayah agar pengalaman wisata tetap nyaman dan aman.
Sementara itu, segmen wisatawan mancanegara menurun karena konflik global, memberi peluang fokus pada pasar domestik dengan pengalaman wisata berbasis komunitas, wahana keluarga, dan fasilitas bermain anak.
Kawasan Rinjani sendiri merupakan ekosistem rapuh. Data Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mencatat 30,35 ton sampah pendakian dari total kunjungan 80.214 orang pada 2025.
Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) kawasan mencapai Rp25,92 miliar dengan total perputaran ekonomi Rp182,05 miliar, menandakan ekowisata sebagai sumber kesejahteraan lokal.
Untuk menyeimbangkan pariwisata dan konservasi, Geopark Rinjani mengusulkan pembangunan shelter sampah di jalur pendakian Sembalun dan Senaru, memudahkan pengelolaan, bahkan menggunakan drone untuk menurunkan sampah dari jalur sulit.
Pendakian modern harus disertai fasilitas dan regulasi, termasuk sanksi tegas dan pemeriksaan barang bawaan.
Keselamatan menjadi prioritas dengan program Rinjani 7.0, menghadirkan tujuh inovasi berbasis data dan teknologi yakni alat pelacak pendaki, komunikasi terpadu, pusat komando pemantau jalur, serta survei titik rawan dan sarana pendukung seperti railing dan sumber air.
Pendekatan berbasis data memastikan keselamatan dan kenyamanan pendaki menjadi nyata, bukan janji. Penguatan regulasi dan inovasi teknologi menunjukkan ekowisata dapat berkembang tanpa mengorbankan konservasi.
Perda Penyelenggaraan Kepariwisataan Lombok Timur menegaskan pembangunan pariwisata harus berpijak pada kelestarian lingkungan, kearifan lokal, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Aktivitas budaya adat, potensi religi, dan destinasi alam dapat terintegrasi menjadi pengalaman wisata edukatif yang memberdayakan komunitas.
Pendakian yang dibuka kembali pada 1 April 2026 menjadi momentum penting, dengan lonjakan minat wisatawan setelah penutupan jalur tiga bulan untuk pemulihan ekosistem.
Pengelolaan terencana, termasuk tiket elektronik E-Rinjani, pelatihan fisik pendaki pemula, dan sistem pengawasan berbasis teknologi, menjadikan pendakian aman, nyaman, dan tetap menghormati alam.
Strategi inklusif mengintegrasikan teknologi, budaya, dan ekonomi lokal melalui shelter sampah, fasilitas keluarga, dan jalur pendakian berbasis data. Retribusi pendakian mendukung konservasi, sementara masyarakat lokal diberdayakan sebagai porter, pemandu, dan pelaku usaha pendukung.
Festival Rinjani Begawe, lomba video reels, pertunjukan seni, dan Putri Rinjani menumbuhkan kesadaran pelestarian alam dan budaya.
Wisatawan diajak memahami pengelolaan sampah, keselamatan pendakian, dan penghargaan terhadap adat lokal, menciptakan pengalaman edukatif yang memperkuat tanggung jawab terhadap lingkungan.
Keberlanjutan wisata Rinjani membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pengelola, masyarakat, dan wisatawan. Investasi infrastruktur, teknologi, dan regulasi selaras dengan ekonomi lokal dan konservasi alam.
Dengan pendekatan ini, Rinjani bukan hanya ikon wisata Lombok, tetapi model ekowisata kelas dunia yang inspiratif, edukatif, dan berkelanjutan.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB dalam cengkeraman layar: Siapa menjaga anak?
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lebaran Topat: Tradisi yang menyulut wisata
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Mengayuh di tengah krisis: Uji nyali kebijakan sepeda birokrasi Mataram
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Sunyi Lebaran di NTB: Ketika Negara diuji di balik jeruji
COPYRIGHT © ANTARA 2026