Mataram (ANTARA) - PT BIBU Panji Sakti menggandeng Universitas Mataram (Unram) Nusa Tenggara Barat untuk melakukan riset dan pengembangan dalam mendukung optimalisasi pelaksanaan tridharma perguruan tinggi serta kontribusi terhadap pemberdayaan pertumbuhan ekonomi dan potensi daerah.

Rektor Universitas Mataram, Prof. Sukardi, mengatakan kerja sama ini bukan sekadar memenuhi kewajiban Tridharma, melainkan memastikan ilmu yang dikembangkan di kampus tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat, terutama di tengah perubahan besar yang sedang terjadi di kawasan Bali dan Nusa Tenggara.

"Perubahan besar yang dimaksud terkait rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara. Di satu sisi, proyek ini di gadang-gadang sebagai solusi atas kepadatan Bandara Ngurah Rai di Bali Selatan. Pembangunan bandara itu juga akan membawa dampak terhadap pembangunan ekonomi di kawasan Indonesia bagian timur," ujarnya usai penandatangan nota kesepahaman antara PT BIBU dan Unram di Mataram, Rabu.

Ia mengatakan pembangunan bandara ini juga membawa konsekuensi sosial, lingkungan, dan ekonomi yang tidak sederhana.

"Jangan sampai masyarakat lokal terpinggirkan. Masyarakat lokal harus menjadi subyek," ujar Prof. Sukardi.

Penandatanganan MoU dilakukan Rektor Universitas Mataram, Prof. Sukardi dan CEO PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo di Mataram.

"Jangan sampai masyarakat lokal terpinggirkan. Masyarakat lokal harus menjadi subyek," ujar Prof. Sukardi.

Baca juga: Dua calon haji Kloter 11 NTB belum mendapatkan kartu nusuk

Dokumen MoU tersebut secara eksplisit menyebutkan kerja sama dimaksudkan untuk memberikan landasan hukum bagi kedua pihak dalam mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang dimiliki. Tujuannya meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kapasitas SDM.

Ruang lingkup-nya pun tidak sempit. Mulai pendidikan, penelitian, hingga pengabdian ke masyarakat. Tiga pilar utama Tridharma, ditambah ruang terbuka untuk kolaborasi lain yang dianggap perlu.

CEO PT BIBU, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, mengatakan kerja sama ini sebagai jembatan yang selama ini sering hilang dalam pembangunan besar.

Baca juga: Kejari Lombok Tengah mencatat lonjakan perkara pidana umum awal 2026

"Proyek infrastruktur sering kali berjalan cepat, tetapi tidak selalu diiringi dengan kesiapan sosial dan pengetahuan yang memadai. Kami ingin memastikan pembangunan BIBU tidak hanya sukses secara fisik, tetapi juga berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan. Di situlah peran universitas menjadi sangat krusial," ujarnya.

Dalam konteks ini, Unram kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja terdidik, tetapi juga sebagai pusat riset yang mampu membaca dampak jangka panjang dari pembangunan tersebut. Mulai dari kajian lingkungan, pemetaan sosial, hingga model pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Lebih jauh, kata dia, adanya proyek besar seperti BIBU, intervensi kepada masyarakat tidak lagi bersifat sporadis, tetapi bisa dirancang berbasis data dan kebutuhan riil. Untuk itu, di tengah dinamika pembangunan yang sering adaptasi masyarakat, pendekatan seperti ini menjadi semakin kali bergerak lebih cepat dari kemampuan adaptasi masyarakat, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan.

"Pembangunan tidak hanya soal beton dan landasan pacu, tetapi juga tentang manusia yang hidup di sekitarnya. Akademik dan industri aviasi sepakat untuk berjalan bersama membangun Nusantara dari Bali Utara," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026