Mataram (ANTARA) - Rob dan abrasi telah berkembang menjadi ancaman struktural bagi kawasan pesisir Indonesia, termasuk Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Fenomena ini bukan lagi peristiwa musiman yang bisa ditangani secara reaktif, melainkan risiko tahunan yang berdampak langsung pada keselamatan warga, keberlanjutan ekonomi nelayan, serta keberadaan aset publik di sepanjang garis pantai.
Kawasan Ampenan, Bintaro, Pondok Prasi, Mapak hingga Kampung Bugis menjadi titik paling rentan, dengan ratusan kepala keluarga tinggal di sempadan pantai yang terus tergerus.
Respons Pemerintah Kota Mataram menunjukkan kesadaran akan skala persoalan tersebut. Pemasangan batu boulder sepanjang 280–300 meter di Kampung Bugis serta tanggul darurat dari geobag, dengan dukungan Balai Wilayah Sungai, menjadi langkah cepat untuk meredam dampak langsung gelombang tinggi.
Sistem boulder yang disusun berjarak dipilih agar aktivitas nelayan tetap berjalan. Namun, pendekatan ini pada dasarnya masih bersifat mitigasi jangka pendek, efektif menahan gelombang sementara, tetapi belum menjawab akar masalah abrasi yang berulang.
Usulan pembangunan pemecah gelombang permanen di Pantai Ampenan dan Bintaro menandai pergeseran ke arah penanganan jangka panjang. Infrastruktur yang dirancang menjorok hingga ratusan meter ke laut, dilengkapi riprap sepanjang garis pantai, membutuhkan anggaran besar hingga ratusan miliar rupiah.
Angka ini mencerminkan besarnya risiko yang dihadapi sekaligus konsekuensi jika perlindungan pantai tidak segera diperkuat. Data sekitar 500 kepala keluarga terdampak abrasi di Ampenan dan prediksi gelombang tinggi dari BMKG mempertegas urgensi tersebut.
Di tengah keterbatasan anggaran, inovasi lokal menjadi elemen penting dalam strategi adaptasi. Metode ban insang dengan memanfaatkan ban mobil bekas yang disusun menyerupai insang ikan menunjukkan bahwa solusi kreatif dapat berjalan berdampingan dengan teknologi konvensional.
Struktur elastis ini membantu menahan pasir, membentuk daratan baru, serta membuka ruang untuk penanaman mangrove dan vegetasi pantai lainnya. Lebih dari fungsi teknis, pendekatan ini memberi ruang partisipasi masyarakat dan mendukung aktivitas nelayan tanpa merusak perahu.
Mitigasi abrasi juga tidak terlepas dari kebijakan tata ruang. Penyiapan kampung nelayan aman di Bintaro seluas 2,3 hektare, lengkap dengan rusunawa dan pasar ikan bersih, menunjukkan upaya mengurangi kerentanan sosial-ekonomi warga pesisir.
Penataan ini menegaskan bahwa perlindungan pantai harus sejalan dengan relokasi aman, penguatan ekonomi lokal, dan akses fasilitas dasar.
Meski demikian, tantangan koordinasi lintas instansi dan kesiapan lahan masih menjadi pekerjaan rumah. Selama solusi permanen belum terealisasi, Pemkot Mataram mengandalkan kombinasi mitigasi sementara, anggaran cadangan, kesiapsiagaan masyarakat, serta penguatan edukasi kebencanaan.
Penanganan rob dan abrasi di Mataram pada akhirnya menegaskan satu pelajaran penting, yakni perlindungan pesisir yang efektif hanya bisa dicapai melalui kombinasi infrastruktur yang tepat, inovasi lokal, tata ruang adaptif, dan pemberdayaan masyarakat.
Tanpa itu, garis pantai akan terus mundur, dan risiko sosial-ekonomi akan semakin besar.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Membaca arah remitansi pekerja migran NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menguji batas legalisasi tambang rakyat di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata Udayana, Menata wajah kota
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lakey Dompu dan gagalnya ruang aman bagi anak
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menakar arah keterbukaan informasi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Alarm BPK dan ujian tata kelola NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tragedi Sekotong dan retaknya nurani keluarga
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Surplus padi NTB dan tantangan menjaganya
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tempah Dedoro dan ujian keseriusan Kota Mataram kelola sampah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Samalas: Sejarah Dunia yang dibiarkan terlantar
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ruang digital NTB dan tantangan menjaga norma sosial
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB dan ujian ketangguhan
COPYRIGHT © ANTARA 2026