Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) menutup pengiriman ternak sapi dari Pulau Bali dan Jawa sebagai langkah antisipasi penyebaran virus Lumpy Skin Disease (LSD).
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Muhammad Riadi mengatakan NTB berstatus hijau dalam kasus LSD. Untuk mengantisipasi penyebaran virusnya, pemerintah telah memblokir pengiriman ternak sapi dan kerbau dari Pulau Bali dan Jawa.
"Ya, kita blokir pengiriman dari Bali dari Jawa. Sudah dua tahun sejak kejadian LSD di Jawa, nggak boleh masuk ke sini," ucap Muhammad Riadi di Mataram, Kamis.
Meski menutup pengiriman sapi dari Bali dari Jawa, kata dia, namun pengiriman sapi dan kerbau dari NTB ke Bali dan Jawa hingga Sumatera tetap diperbolehkan.
"Kan kalau dari daerah hijau ke merah, itu kan boleh saja. Yang kita khawatirkan, LSD ini disebarkan oleh vektor penyakitnya," kata Muhammad Riadi.
Baca juga: Penyakit LSD mengintai sapi dan kerbau, Pemprov NTB perketat kewaspadaan
Riadi mengatakan vektor penyakit virus LSD belum bisa dikendalikan. Bisa saja, kata dia, vektor penyakit virus LSD tersebut nempel di bus malam, truk. hingga kendaraan lalu lintas lainnya.
"Nah ini yang paling kami khawatirkan, sehingga kami minta teman-teman medis di posko pengawasan di pelabuhan melakukan pemantauan secara intensif," ucap Riadi.
Sejauh ini, kata Riadi, belum ada kasus penyebaran virus LSD di NTB. Jika ada ternak terindikasi LSD, pihaknya akan memberlakukan lokalisir kawasan.
"Virus ini mirip dengan PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) karena sama-sama virus," ujarnya.
Pihaknya telah memperketat pengawasan jalur pengiriman hewan ternak di Pelabuhan Lembar. Pengawasan dilakukan bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK).
"Di pelabuhan itu sangat ketat, kita bersama Balai Karantina sudah koordinasi," tegasnya.
Baca juga: Sebanyak 500 sapi Australia batal masuk NTB karena risiko penyakit LSD
Lebih lanjut Riadi mengatakan pemerintah belum menyediakan vaksin LSD. Namun seluruh sapi di NTB telah diberikan vaksin PMK, karena kasus PMK di NTB masih berstatus merah.
"Kita belum punya. Kan mahal vaksinnya, cuma mahal kan alokasi anggarannya tidak cukup. Jadi, vaksin LSD enggak dapat kita," kata Riadi.
Meski demikian jika ada hewan ternak terpapar LSD, pihaknya mengimbau peternak dan masyarakat tidak perlu khawatir. Karena sapi yang terjangkit masih bisa dikonsumsi dagingnya.
"Bisa, karena dia bukan zoonosis. Sama dengan PMK bukan zoonosis juga," katanya.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026