Mataram (ANTARA) - Gelombang wisatawan mancanegara yang setiap tahun membanjiri pulau-pulau tujuan wisata di Indonesia menghadirkan tantangan baru bagi sistem kesehatan. Dari Bali hingga Lombok, bandara dan pelabuhan menjadi gerbang vital, sekaligus potensi jalur masuk berbagai penyakit menular.

Salah satu ancaman terbaru yang menarik perhatian global adalah Virus Nipah. Meskipun kasus konfirmasi di Indonesia belum ditemukan, langkah antisipatif menjadi kunci untuk mencegah krisis kesehatan yang lebih luas.

Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang bersumber dari kelelawar pemakan buah dan dapat menular ke manusia melalui perantara hewan, seperti babi, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Di India, kasus virus ini muncul kembali di negara bagian Bengala Barat pada awal 2026, menyerang tenaga kesehatan yang merawat pasien di rumah sakit setempat.

Tingkat kematian akibat virus Nipah tergolong tinggi, mencapai 40 hingga 75 persen bagi mereka yang terinfeksi berat, dan dapat menimbulkan komplikasi serius pada sistem saraf dan paru-paru.

Masa inkubasi virus berkisar antara empat hingga 12 hari, sehingga deteksi dini dan pengawasan intensif sangat diperlukan.

Kondisi ini memicu respons cepat pemerintah Indonesia melalui berbagai instansi. Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2026 tentang Kejadian Luar Biasa, Wabah, dan Krisis Kesehatan.

Peraturan ini menekankan sistem satu komando untuk koordinasi lintas sektor, penguatan fasilitas layanan kesehatan, pengelolaan bahan biologis berisiko, hingga pendayagunaan tenaga cadangan kesehatan di wilayah terdampak.

Dengan regulasi ini, pemerintah menekankan bahwa penanganan virus Nipah bukan sekadar tugas medis, tetapi juga kewajiban publik yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.


Pengawasan ketat

Langkah preventif di pintu masuk internasional menjadi prioritas. Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) menerapkan pengawasan ketat, terutama bagi penerbangan dari India.

Alat pengecekan suhu tubuh dipasang untuk mendeteksi penumpang dengan suhu tubuh tinggi, sementara protokol pemeriksaan lanjutan disiapkan bagi mereka yang menunjukkan gejala demam, nyeri otot, atau sesak napas.

Bali juga telah menyiapkan fasilitas isolasi di rumah sakit pemerintah untuk mengantisipasi kemungkinan kasus positif, sekaligus edukasi bagi masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) saat berinteraksi dengan makanan atau minuman yang berpotensi terkontaminasi.

Di Lombok, antisipasi virus Nipah juga diterapkan di berbagai titik strategis. Kota Mataram sebagai ibu kota provinsi menjadi fokus pengawasan, mengingat mobilitas penduduk dan wisatawan yang tinggi.

Dinas Kesehatan Kota Mataram mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi penularan melalui hewan, terutama babi dan buah yang telah terkontaminasi melalui kelelawar.

Upaya preventif, seperti mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh, memasak nira aren sebelum dikonsumsi, serta memperhatikan riwayat perjalanan ke negara dengan kasus konfirmasi menjadi bagian dari edukasi kesehatan masyarakat.

Selain itu, Pemkot Mataram meningkatkan surveilans terhadap gejala mirip influenza, ISPA, pneumonia, atau ensefalitis untuk memastikan deteksi dini kasus suspek virus Nipah.

Langkah-langkah ini selaras dengan prinsip penguatan karantina kesehatan nasional. Wakil Menteri Kesehatan menegaskan bahwa pengendalian ketat di bandara, pelabuhan, dan perbatasan merupakan langkah preventif utama.

Kontrol ketat bukan sekadar prosedur formal, tetapi strategi vital mengingat Virus Nipah dapat menular antarmanusia melalui kontak erat. Di sisi lain, migrasi kelelawar dan burung dari berbagai negara menambah kompleksitas pengawasan.

Fenomena ini meningkatkan risiko masuknya virus melalui jalur alami, terutama ke wilayah tropis seperti Indonesia yang menjadi tempat singgah dan berkembang biak bagi hewan pembawa virus.


Edukasi dan pencegahan

Selain deteksi dan pengawasan, edukasi publik menjadi fondasi strategi pencegahan. Tidak adanya vaksin atau obat spesifik untuk Virus Nipah menempatkan perilaku masyarakat sebagai garda utama pencegahan.

Perilaku Hidup Bersih dan Seha (PHBS) menjadi praktik universal, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta menghindari kontak dengan hewan sakit atau buah yang rusak.

Pendidikan ini tidak hanya melindungi individu, tetapi juga menciptakan kesadaran kolektif untuk menjaga keselamatan publik. Dengan kata lain, masyarakat menjadi bagian dari sistem pertahanan kesehatan nasional.

Pendekatan berbasis risiko juga diterapkan untuk memprioritaskan sumber daya. Bandara internasional dan pelabuhan di kota wisata diperlakukan sebagai “zona merah” pengawasan, sementara laboratorium kesehatan masyarakat ditingkatkan kapasitasnya untuk mendukung diagnosis cepat.

Surveilans terhadap kelelawar buah lokal dan penelitian serologis menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memahami potensi penularan di Indonesia.

Semua langkah ini membentuk rangkaian sistem tanggap darurat yang terintegrasi, menekankan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat.

Krisis potensial akibat Virus Nipah menekankan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya reaktif, melainkan preventif dan berkelanjutan. Indonesia, dengan posisi geografis dan mobilitas tinggi, perlu menjaga gerbang masuk negara dari risiko penyebaran penyakit menular.

Kota-kota wisata, seperti Bali dan Lombok bukan sekadar tujuan melancong, tetapi juga pusat strategis pengendalian risiko kesehatan global. Langkah-langkah preventif yang diterapkan di sini memiliki efek domino bagi keselamatan nasional.

Refleksi dari antisipasi Virus Nipah di Indonesia menunjukkan bahwa menghadapi ancaman baru memerlukan integrasi antara kebijakan, sains, dan perilaku masyarakat.

Regulasi Kemenkes, penguatan karantina, pengawasan bandara, edukasi PHBS, serta penelitian serologis pada inang alami membentuk kerangka pencegahan komprehensif.

Tantangan terbesar tetap pada disiplin kolektif dan kesadaran publik. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, upaya teknis dan kebijakan bisa terhambat.

Dengan demikian, antisipasi Virus Nipah bukan hanya soal menyiapkan protokol atau ruang isolasi, tetapi tentang membangun budaya kesehatan yang resilien. Kesadaran bahwa setiap individu berperan dalam mencegah penularan akan menjadi benteng pertama yang kokoh.

Indonesia, melalui pengalaman menghadapi pandemi sebelumnya, memiliki kesempatan untuk memperkuat sistem kesehatan dan kesiapsiagaan nasional. Virus Nipah mungkin belum masuk, tetapi kesiapan hari ini menentukan kemampuan menghadapi ancaman esok.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bali dan Lombok: Gerbang wisata di bawah bayang Nipah





COPYRIGHT © ANTARA 2026