Tajuk ANTARA NTB - Surplus padi NTB dan tantangan menjaganya

id Tajuk ANTARA NTB,Surplus padi NTB ,tantangan,swasembada

Tajuk ANTARA NTB - Surplus padi NTB dan tantangan menjaganya

Arsip- Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal meninjau tanaman padi. ANTARA/Pemprov NTB. (1)

Mataram (ANTARA) - Lonjakan produksi padi di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2025 patut dicatat sebagai capaian penting dalam peta pangan nasional.

Angka resmi menunjukkan produksi gabah kering giling mencapai sekitar 1,7 juta ton, meningkat lebih dari 16 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini sekaligus menempatkan NTB sebagai salah satu daerah penopang utama agenda swasembada pangan nasional 2026.

Capaian tersebut menandai fase baru pertanian NTB. Setelah sempat mengalami penurunan pada 2024, produksi kembali menguat seiring bertambahnya luas panen hingga lebih dari 322 ribu hektare dan meningkatnya produktivitas lahan.

Ketersediaan benih dalam kondisi surplus memperkuat fondasi produksi, sekaligus menunjukkan perbaikan tata kelola perbenihan yang selama ini kerap menjadi titik rawan.

Namun lonjakan produksi tidak boleh dibaca semata sebagai keberhasilan angka. Swasembada pangan bukan hanya soal berapa ton padi dihasilkan, melainkan menyangkut daya tahan sistem pertanian, kesejahteraan petani, keberlanjutan lingkungan, serta stabilitas pasar. Tanpa fondasi yang kokoh, capaian produksi berisiko menjadi momentum sesaat.

Kenaikan produksi padi NTB pada 2025 lebih banyak ditopang oleh perluasan dan optimalisasi lahan dibanding lonjakan produktivitas per hektare. Program pompanisasi, sumur resapan, dan perbaikan irigasi sederhana berhasil meningkatkan indeks pertanaman di sejumlah wilayah.

Petani yang sebelumnya hanya menanam sekali setahun mulai berani menambah musim tanam. Ini mencerminkan kerja kolektif lintas sektor yang patut diapresiasi.

Meski demikian, ketergantungan pada intervensi jangka pendek masih cukup besar. Subsidi pupuk, dukungan harga gabah, dan program optimalisasi lahan menjadi penopang utama.

Ketika salah satu elemen ini melemah, produksi berpotensi kembali stagnan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan produksi padi NTB belum sepenuhnya mandiri.

Persoalan struktural juga belum teratasi. Sebagian besar sawah NTB masih bertumpu pada pola tadah hujan, dengan jaminan air yang terbatas. Di sisi lain, kompetisi penggunaan lahan semakin nyata.

Diversifikasi ke komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti tembakau, bawang, dan cabai merupakan pilihan rasional petani, tetapi berdampak pada berkurangnya luas tanam padi dan tertahannya indeks pertanaman.

Lonjakan produksi juga membawa tantangan di sisi hilir. Tanpa manajemen serapan dan distribusi yang efektif, surplus berisiko menekan harga gabah di tingkat petani.

Swasembada yang tidak disertai perlindungan harga justru dapat merugikan aktor utama produksi. Selain itu, peningkatan intensitas tanam berpotensi menekan daya dukung tanah dan air jika tidak diimbangi praktik pertanian berkelanjutan.

Karena itu, lonjakan produksi padi NTB harus diperlakukan sebagai momentum strategis. Perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan perlu diperkuat.

Pengelolaan air harus bergerak dari solusi darurat menuju sistem irigasi yang adaptif terhadap perubahan iklim. Kesejahteraan petani harus menjadi indikator utama keberhasilan, bukan sekadar volume produksi.

NTB telah membuktikan kapasitasnya sebagai lumbung pangan penting. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa lonjakan produksi ini menjadi fondasi jangka panjang menuju swasembada pangan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masa depan. Di situlah ujian sesungguhnya berada.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tempah Dedoro dan ujian keseriusan Kota Mataram kelola sampah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Samalas: Sejarah Dunia yang dibiarkan terlantar
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ruang digital NTB dan tantangan menjaga norma sosial
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Langit NTB dan ujian ketangguhan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Kebon Kongok, ujian keseriusan pengelolaan sampah NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketika bukit dikeruk, banjir menagih Sekotong
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lobster NTB: Kaya benih, miskin nilai
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Hiu Paus: Titik uji konservasi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Amahami dan Gili Gede, Reklamasi dan krisis tata kelola
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Broken Strings dan sunyi perempuan di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Banjir NTB dan sungai yang menagih jawaban
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tambang ilegal Sekotong dan ujian wibawa Negara

Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.