Mataram (ANTARA) - Pawai ogoh-ogoh di Kota Mataram tidak lagi sekadar tradisi menjelang Hari Raya Nyepi, melainkan telah berkembang menjadi ruang sosial yang memperlihatkan kematangan toleransi di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Keterlibatan 105 banjar dengan karya-karya raksasa yang sarat imajinasi dan simbolisme menunjukkan tingginya partisipasi kolektif, sekaligus menandai transformasi tradisi menjadi peristiwa publik berskala besar.
Momentum tahun ini menjadi semakin signifikan karena berlangsung beriringan dengan Ramadhan. Dua ritme keagamaan berjalan dalam satu ruang sosial yang sama, tanpa saling menegasikan.
Situasi ini menghadirkan potret harmoni yang tidak lahir secara spontan, melainkan melalui pengelolaan yang sadar, terencana, dan sensitif terhadap perbedaan.
Secara filosofis, ogoh-ogoh merepresentasikan bhuta kala, energi negatif yang harus dinetralisasi sebelum memasuki keheningan Nyepi. Ia adalah simbol perjalanan dari keramaian menuju refleksi.
Namun dalam praktik kekinian, makna ini berhadapan dengan dinamika baru: kompetisi antarbanjar, eksposur media sosial, serta daya tarik wisata. Ogoh-ogoh tidak hanya menjadi ekspresi spiritual, tetapi juga tontonan publik yang dinanti.
Di sinilah letak dilema yang perlu dicermati. Kemeriahan yang semakin besar berpotensi menggeser orientasi dari makna menuju spektakel. Ketika ukuran keberhasilan lebih ditentukan oleh visual dan popularitas, dimensi filosofis berisiko tereduksi.
Fenomena ini lazim terjadi dalam banyak tradisi budaya yang mengalami komersialisasi, namun tidak berarti harus dibiarkan tanpa arah.
Konteks Mataram memberikan pembeda penting. Kemeriahan ogoh-ogoh tidak berdiri sendiri, melainkan terikat dalam ekosistem sosial yang menjunjung tinggi toleransi.
Penyesuaian waktu pawai agar tidak mengganggu ibadah berbuka puasa, rekayasa lalu lintas sepanjang 1,5 kilometer, hingga komunikasi lintas komunitas menjadi bukti bahwa ruang publik dikelola dengan kesadaran kolektif.
Pengamanan yang melibatkan ratusan personel serta kesiapsiagaan 325 petugas kebersihan untuk mengantisipasi hingga 7 ton sampah menunjukkan bahwa tradisi ini telah menjadi peristiwa kompleks dengan konsekuensi sosial dan ekologis.
Bahkan dimensi kemanusiaan turut hadir melalui pemberian remisi kepada puluhan narapidana beragama Hindu, menegaskan bahwa perayaan keagamaan juga menyentuh aspek hak dan refleksi personal.
Keseluruhan dinamika ini menegaskan bahwa toleransi di Mataram bukan sekadar narasi normatif, tetapi praktik nyata yang dijalankan melalui kebijakan dan koordinasi.
Namun keberhasilan hari ini tidak menjamin keberlanjutan di masa depan. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan antara kreativitas, popularitas, dan kedalaman makna.
Upaya menjaga makna ogoh-ogoh membutuhkan pendekatan strategis. Edukasi menjadi kunci agar generasi muda tidak hanya berorientasi pada estetika, tetapi juga memahami nilai filosofis di balik karya yang mereka ciptakan.
Peran pemerintah daerah dapat diperkuat melalui program pendidikan budaya, kurasi karya, serta ruang dialog yang menghidupkan kembali makna simbolik ogoh-ogoh.
Aspek lingkungan juga tidak bisa diabaikan. Inovasi penggunaan bahan ramah lingkungan dan sistem pengelolaan limbah harus menjadi bagian dari standar penyelenggaraan. Tradisi yang besar tidak boleh meninggalkan jejak ekologis yang merugikan.
Di sisi lain, pola koordinasi lintas agama yang telah terbukti efektif perlu diformalkan sebagai protokol berkelanjutan. Harmoni sosial tidak cukup dijaga secara situasional, tetapi harus dirawat melalui komunikasi yang konsisten.
Ogoh-ogoh pada akhirnya bukan hanya tentang arak-arakan patung raksasa, melainkan tentang kemampuan masyarakat mengelola perbedaan, merawat tradisi, dan menyeimbangkan nilai spiritual dengan dinamika zaman.
Masa depan tradisi ini akan sangat ditentukan oleh pilihan hari ini, yakni menjaga makna di tengah perubahan, atau membiarkannya larut dalam gemerlap yang kehilangan arah.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ketika alam menguji Lebaran di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - THR NTB: Kesenjangan di balik euforia Lebaran
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB : Tarif mudik melampaui batas di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Musim jalanan Mataram: Antara sedekah dan dilema
COPYRIGHT © ANTARA 2026