Mataram (ANTARA) - Menjelang Ramadhan, dinamika pasar di Nusa Tenggara Barat kembali memasuki fase sensitif. Permintaan bahan pokok meningkat, perhatian publik menguat pada harga dan pasokan, sementara pemerintah dituntut memastikan stabilitas tetap terjaga. 

Momentum ini berulang setiap tahun dan selalu menghadirkan dua sisi, yakni optimisme karena stok relatif aman, sekaligus kewaspadaan karena fluktuasi harga dapat terjadi sewaktu-waktu.

Data menunjukkan fondasi pasokan daerah cukup kuat. Cadangan beras di gudang Bulog mencapai sekitar 154 ribu ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan enam hingga sepuluh bulan ke depan. Harga beras medium bertahan di kisaran Rp13.000 per kilogram, sedangkan beras premium berada pada harga eceran tertinggi Rp14.900 per kilogram. 

Secara makro, tidak ada indikasi kelangkaan. Inflasi Kota Mataram pada awal 2026 tercatat 3,69 persen secara tahunan, masih terkendali dan bahkan di bawah inflasi provinsi.

Namun stabilitas makro tidak selalu identik dengan ketenangan di tingkat mikro. Pengalaman menunjukkan komoditas hortikultura seperti cabai rawit dan bawang merah kerap menjadi pemicu gejolak. 

Cuaca ekstrem pada awal tahun mendorong harga cabai rawit melonjak hingga Rp65.000 per kilogram. Gangguan panen dan distribusi membuktikan bahwa persoalan pangan bukan hanya soal ketersediaan di gudang, melainkan kelancaran rantai pasok dari produsen ke konsumen.

Fakta ini menegaskan bahwa distribusi dan psikologi pasar memainkan peran krusial. Ketika muncul persepsi kelangkaan, masyarakat cenderung membeli lebih banyak dari kebutuhan. Permintaan yang terdorong kepanikan dapat menciptakan tekanan harga yang sebenarnya tidak perlu. Karena itu, komunikasi publik berbasis data menjadi sama pentingnya dengan operasi pasar.

Pemerintah daerah telah melakukan langkah antisipatif. Pemantauan harga rutin di pasar tradisional, pelaksanaan pasar murah, serta program pasar keliling menjadi instrumen jangka pendek untuk meredam gejolak. 

Di sektor perikanan, stok ikan di fasilitas penyimpanan dingin tercatat memadai, meskipun musim barat membatasi aktivitas melaut. Intervensi ini patut diapresiasi, tetapi tidak boleh berhenti sebagai respons musiman.

Tantangan struktural tetap harus dijawab. Ketergantungan pada komoditas hortikultura musiman menjadikan daerah rentan terhadap perubahan cuaca. Investasi pada teknologi budidaya tahan cuaca, pengembangan rumah tanam sederhana, serta pembentukan cadangan hortikultura menjadi kebutuhan mendesak. 

Ketahanan pangan tidak cukup diukur dari cadangan beras, melainkan dari kemampuan sistem mengantisipasi gangguan produksi dan distribusi.

Di sisi lain, efisiensi rantai pasok perlu diperkuat. Digitalisasi logistik, integrasi data distributor, dan pemetaan wilayah rawan lonjakan harga harus menjadi agenda konkret Tim Pengendali Inflasi Daerah. Koordinasi lintas lembaga mesti berorientasi pada pemangkasan biaya distribusi agar harga tetap wajar tanpa merugikan produsen.

Diversifikasi pangan juga menjadi strategi penting. Potensi jagung, ikan budidaya, dan komoditas lokal lain dapat dikembangkan sebagai substitusi untuk mengurangi tekanan pada komoditas tertentu. Edukasi konsumsi beragam bukan semata isu gizi, tetapi instrumen stabilisasi harga.

Stabilitas yang sehat adalah stabilitas yang adil. Konsumen membutuhkan harga terjangkau, sementara petani dan nelayan berhak atas margin yang layak. Kebijakan yang hanya menekan harga tanpa melindungi produsen berisiko melemahkan produksi jangka panjang.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum penguatan solidaritas sosial, bukan periode kecemasan ekonomi. Keberhasilan menjaga harga selama satu bulan belum cukup jika tidak diikuti pembenahan sistem pangan sepanjang tahun. Ketahanan lahir dari konsistensi kebijakan, kedewasaan pasar, dan partisipasi masyarakat.

Ujian sesungguhnya bukan pada lonjakan musiman, melainkan pada kemampuan daerah membangun tata kelola pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Jika langkah struktural ditempuh secara konsisten, stabilitas bukan lagi agenda tahunan, melainkan fondasi permanen pelayanan publik.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bawang Putih NTB vs impor: Ujian kedaulatan pangan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Darurat Narkoba di Bima: Benteng hukum retak dari dalam
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Pers sehat menuju Indonesia Emas
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Akhmad Munir: Rock n' Roll dan langkah sunyi seorang jurnalis
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Kemiskinan NTB: Turun, tapi rentan
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Di balik layar NTB Makmur Mendunia
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Bali dan Lombok: Gerbang wisata di bawah bayang Nipah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menjaga pantai Mataram dari rob dan abrasi
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Membaca arah remitansi pekerja migran NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menguji batas legalisasi tambang rakyat di NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata Udayana, Menata wajah kota
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Lakey Dompu dan gagalnya ruang aman bagi anak





COPYRIGHT © ANTARA 2026