Mataram (ANTARA) - Pagi itu, di sebuah sudut Lingkungan Karang Tatah, Kota Mataram, beberapa warga duduk melingkar di bangku beton yang mengitari sebuah lubang tertutup rapi.
Sekilas ia tampak seperti meja bundar tempat berbincang. Anak-anak melintas, ibu-ibu membawa ember sisa sayur dan nasi basi, lalu membuka penutup kecil di bagian atasnya. Sisa dapur itu pun masuk ke dalam tanah.
Benda itu bernama tempah dedoro. Dalam bahasa Sasak, tempah berarti tempat, dedoro berarti sampah. Sebuah istilah sederhana untuk gagasan yang tidak sesederhana wujudnya.
Sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram terus tumbuh sebagai pusat jasa, perdagangan, pendidikan, dan hunian. Pertumbuhan itu berbanding lurus dengan produksi sampah.
Data Dinas Lingkungan Hidup menyebutkan volume sampah Kota Mataram saat ini mencapai sekitar 250 ton per hari yang sebagian besar dibuang ke TPA Kebon Kongok di Kabupaten Lombok Barat.
Di balik rutinitas truk pengangkut sampah yang hilir mudik, ada persoalan klasik kota-kota berkembang; keterbatasan lahan, tekanan lingkungan, dan biaya pengelolaan yang terus membengkak.
Dari tekanan itulah muncul inovasi pengolahan sampah organik berbasis lingkungan yang melibatkan warga secara langsung. Pemerintah Kota Mataram memperkenalkan tempah dedoro sebagai solusi mandiri dan relatif murah untuk mengurangi beban sampah dari sumbernya.
Tekan beban dari rumah
Secara teknis, tempah dedoro adalah lubang sedalam 1,5 meter dengan diameter sekitar 90 sentimeter. Bagian atasnya dipasang buis beton dan penutup, dilengkapi lubang kecil untuk memasukkan sampah organik.
Warga cukup membuang sisa makanan, sayur, daun, dan sampah dapur lainnya ke dalamnya. Untuk mengurangi bau dan mempercepat penguraian, cairan EM4 atau air bekas cucian beras dapat disemprotkan secara berkala.
Dalam waktu sekitar delapan hingga 12 bulan, sampah organik itu berubah menjadi kompos yang bisa dipanen dan digunakan kembali untuk tanaman di pekarangan.
Metode ini dinilai efisien. Biaya pembuatannya berkisar Rp800 ribu hingga Rp1 juta per unit, lengkap dengan dudukan beton yang sekaligus berfungsi sebagai tempat duduk. Satu unit dapat melayani tiga hingga empat kepala keluarga, tanpa listrik, tanpa mesin, dan tanpa teknologi rumit.
Hasil uji coba di Karang Tatah menunjukkan dampak yang terukur. Sebelum ada tempah dedoro, volume sampah warga di lingkungan tersebut mencapai sekitar 180 kilogram per hari.
Setelah 25 unit tempah dedoro dipasang di sejumlah rumah dan ruang publik, sampah yang tersisa untuk diangkut hanya sekitar 80 kilogram per hari, sebagian besar nonorganik. Artinya, sekitar 100 kilogram sampah organik sudah diolah mandiri di tingkat lingkungan.
Dalam skala lebih besar, penguraian sampah organik juga signifikan. Dari satu ton sampah organik, yang tersisa menjadi kompos hanya sekitar tiga karung atau 75 kilogram, setara 7,5 persen dari volume awal. Sisanya terurai secara alami di dalam tanah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi mengatakan, jika program ini berjalan masif, dampaknya bisa sangat besar terhadap pengurangan beban TPA.
“Apabila program tempah dedoro bisa dilakukan secara masif tahun 2026, maka 2027 volume sampah di Kota Mataram yang mencapai 250 ton per hari bisa turun hingga 60 persen,” ujarnya.
Target itu bukan tanpa rencana. Pemerintah Kota Mataram menyiapkan program satu kelurahan satu lingkungan sebagai lokasi percontohan. Dari 325 lingkungan yang ada di 50 kelurahan, tahap awal akan dibangun 50 unit tempah dedoro di 50 lingkungan. Program ini juga diarahkan menyasar pasar tradisional, sekolah, kompleks perumahan, kantor, hingga hotel dan restoran.
Di tengah wacana nasional soal krisis TPA di berbagai daerah dan dorongan ekonomi sirkular, langkah ini menjadi penting. Pengelolaan sampah tidak lagi bertumpu pada pola kumpul-angkut-buang, tetapi bergeser pada pemilahan dan pengolahan dari sumber.
Ruang sosial baru warga
Menariknya, tempah dedoro tidak hanya diposisikan sebagai komposter. Dengan desain dan cat yang menarik, dilengkapi bangku melingkar, ia justru menjadi ruang sosial baru. Warga berkumpul, berbincang, bahkan berdiskusi soal kebersihan dan tanaman.
Kepala Lingkungan Marong Karang Tatah Lalu Muhammad Ya’kub melihat perubahan perilaku yang nyata sejak program itu berjalan.
“Tempah dedoro bisa menjadi ruang interaksi dan sosial warga. Sekarang warga banyak yang jadi petani mandiri karena memanfaatkan kompos cair dan padat dari program ini,” katanya.
Karang Tatah memang dikenal warganya gemar bercocok tanam. Ketika program tanam cabai digencarkan, ketersediaan kompos dari tempah dedoro membuat mereka lebih produktif. Pekarangan yang dulu kosong kini ditanami cabai, sayur, dan tanaman hias. Sampah yang sebelumnya dianggap beban berubah menjadi sumber daya.
Inovasi pengolahan sampah organik melalui "tempah dedoro" atau tempat sampah organik di rumah warga di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kecamatan Selapang, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. ANTARA/Nirkomala.
Di titik inilah tempah dedoro melampaui fungsi teknisnya. Ia menjadi medium edukasi lingkungan. Anak-anak belajar bahwa sisa makanan tidak selalu berakhir di gunungan TPA. Ibu-ibu memahami bahwa dapur dan kebun saling terhubung. Warga belajar bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.
Konsep ini sejalan dengan prinsip 3E+1N dalam pelayanan publik: mendidik, memberdayakan, mencerahkan, dan menanamkan rasa cinta pada lingkungan sebagai bagian dari kecintaan pada negeri. Ketika warga menjaga kebersihan lingkungannya, sesungguhnya mereka menjaga wajah kota dan bagian kecil dari NKRI.
Namun, tantangan tetap ada. Keberhasilan tempah dedoro sangat bergantung pada konsistensi perilaku warga. Tanpa pemilahan yang disiplin, tanpa penyemprotan rutin, lubang kompos bisa menimbulkan bau dan protes. Tanpa pendampingan, antusiasme awal bisa meredup.
Karena itu, edukasi berkelanjutan dan peran kepala lingkungan menjadi kunci. Pengawasan ringan, lomba kebersihan, hingga integrasi dengan bank sampah untuk sampah nonorganik bisa menjadi pelengkap agar sistem berjalan utuh.
Masa depan kota dari lubang tanah
Dalam banyak studi pengelolaan sampah perkotaan, solusi yang bertahan lama adalah yang sederhana, murah, dan melibatkan masyarakat. Tempah dedoro memenuhi ketiganya. Ia tidak membutuhkan investasi miliaran rupiah seperti insinerator, tidak bergantung pada listrik, dan tidak menunggu teknologi canggih.
Tentu, ia bukan solusi tunggal. Sampah nonorganik tetap perlu sistem daur ulang dan pengangkutan yang baik. Namun dengan komposisi sampah kota yang umumnya didominasi organik, pengurangan dari sumber adalah langkah strategis.
Jika benar 60 persen sampah bisa ditekan dalam beberapa tahun ke depan, Kota Mataram dapat menjadi contoh bagi kota lain di Nusa Tenggara Barat, bahkan nasional. Apalagi tekanan terhadap TPA Kebon Kongok terus meningkat seiring bertambahnya penduduk dan aktivitas ekonomi.
Pada akhirnya, masa depan kota tidak selalu ditentukan oleh gedung tinggi atau jalan lebar. Kadang ia bermula dari lubang tanah sedalam 1,5 meter di halaman rumah warga. Dari sana tumbuh kesadaran bahwa sampah bukan sekadar residu, melainkan tanggung jawab bersama.
Tempah dedoro mengajarkan satu hal sederhana: kota yang bersih bukan hanya hasil kerja pemerintah, melainkan hasil gotong royong warganya. Pertanyaannya, sejauh mana konsistensi itu bisa dijaga?
Jika jawaban itu ada di tangan warga, maka harapan untuk Mataram yang lebih bersih dan mandiri bukan lagi wacana, melainkan kerja bersama yang terus berlanjut.
Baca juga: Tempah Dedoro dan cara kota bernapas