Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mulai melakukan penanganan sampah di pasar tradisional melalui program pengolahan sampah organik dengan menggunakan inovasi "tempah dedoro" atau tempat sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Selasa, mengatakan, program "tempah dedoro" di pasar tradisional bekerja sama dengan Dinas Perdagangan (Disdag) Mataram.
"Untuk tahap awal, Disdag akan memuat 52 unit 'tempah dedoro' pada 18 pasar tradisional di Kota Mataram," katanya.
Jumlah pasar tradisional di Kota Mataram, tercatat 19 pasar, namun satu pasar yakni Pasar Karang Jasi tidak memungkinkan untuk pembuatan "tempah dedoro" sehingga dari 19 pasar, "tempah dedoro" akan di buat pada 18 pasar tradisional.
Menurutnya, jumlah "tempah dedoro" yang akan dibuat di masing-masing pasar bervariasi sesuai dengan besar kecil pasar dan volume sampah di pasar tersebut.
Baca juga: Tempah Dedoro dan cara kota bernapas
Jika "tempah dedoro" di tingkat rumah tangga, dengan kedalaman 1,5 meter bisa penuh hingga satu tahun, kemungkinan kalau di pasar akan lebih cepat yakni 2-3 bulan.
Karena itu, untuk mempercepat penguraian sampah organik pihak pasar juga diminta untuk mencampurkan cairan EM4, agar pembentukan sampah organik menjadi kompos lebih cepat.
"Setelah 'tempah dedoro' penuh, kami akan bantu untuk mengosongkan kembali. Kompos yang terbentuk bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik," katanya.
Pembuatan "tempah dedoro" di pasar tradisional itu, sebagai bagian upaya mendukung program pengurangan sampah dari sumber dan mengurangi volume sampah yang di buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat.
"Jika program ini berhasil, kami berharap volume sampah pasar bisa berkurang 30-40 persen per hari," katanya.
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Tempah Dedoro dan ujian keseriusan Kota Mataram kelola sampah
Salah satu contoh di Pasar Pagesangan, dalam sehari volume sampah bisa mencapai dua dump truk atau sekitar 4-5 ton.
"Kalau sekitar 30-40 persen diolah dalam 'tempah dedoro', lumayan bisa mengurangi beban untuk di buang ke TPA," katanya.
Dia berharap, program "tempah dedoro" di pasar tradisional bisa menjadi contoh untuk di fasilitas publik lainnya, termasuk di sekolah dan perkantoran.
Sistem pengolahan sampah melalui "tempah dedoro" dibuat dengan menggunakan buis beton dengan kedalaman 1,5 meter dan penutup serta diberi lubang untuk membuang sampah organik.
Baca juga: Tempah Dedoro diperluas di Mataram, Sekolah jadi pengolah sampah organik
Melalui wadah tersebut, masyarakat bisa mengolah sampah organik secara mandiri di lingkungan sebab satu "tempa dedoro" bisa digunakan untuk 3-4 kepala keluarga.
Sementara untuk menghilangkan aroma dari sampah organik dan sisa makanan, bisa menyemprotkan cairan EM4 sekaligus mempercepat penguraian. Selain itu, bisa juga menggunakan air bekas cuci beras yang mudah didapatkan.
Setelah sampah organik terurai dalam waktu sekitar satu tahun, masyarakat bisa panen kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman yang ada di pekarangan rumah.
Baca juga: SPPP MBG Mataram diminta buat 'tempah dedoro'
Baca juga: Inovasi 'Tempah Dedoro' tekan sampah organik di Mataram
Baca juga: DLH tekan 60 persen sampah organik di Mataram melalui 'tempah dedoro'