Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menyiapkan konsep program reduksi sampah dari lingkungan melalui inovasi "tempah dedoro" khusus untuk pengolahan sampah organik.
"Bulan Februari, program reduksi sampah dari lingkungan melalui inovasi 'tempah dedoro'' mulai kami laksanakan di 50 kelurahan se-Kota Mataram," kata Wali Kota Mataram Mohan Roliskana di Mataram, Selasa.
Ia menilai kegiatan uji coba "tempah dedoro" atau tempat pengolahan sampah organik di Lingkungan Marong Jamak Karang Tatah, Kota Mataram, selama dua bulan terakhir dinilai efektif mereduksi sampah dari lingkungan.
Data awal volume sampah di Lingkungan Marong Jamak Karang Tatah mencapai 200 kilogram per hari, setelah uji coba 25 titik "tempah dedoro" di lingkungan itu, sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sekitar 100 kilogram.
Baca juga: DLH tekan 60 persen sampah organik di Mataram melalui 'tempah dedoro'
Bahkan bisa di bawah 100 kilogram, kata dia, karena ada juga sampah kardus dan bekas botol serta air mineral yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
"Dari data itu, kami bisa lihat reduksi sampah lingkungan bisa mencapai 50 persen lebih," kata Wali Kota Mohan.
Terkait dengan itu program "tempah dedoro" akan menjadi program alternatif penanganan sampah melalui lingkungan dan segera diperluas ke 50 kelurahan lainnya.
Untuk tahap pertama, kata dia, satu kelurahan akan diambil satu lingkungan menjadi percontohan untuk lingkungan lainnya.
Menurut Mohan, anggaran untuk pembuatan "tempah dedoro" berkisar sekitar Rp800 ribu hingga Rp1 juta, itu pun model "tempah dedoro" yang sudah dilengkapi dengan tempat duduk.
"Kalau media 'tempah dedoro' tanpa tempat duduk mungkin harganya lebih murah," katanya.
Baca juga: Mataram uji coba pengolahan sampah sistem 'tempah dedoro'
Sistem pengolahan sampah melalui "tempah dedoro" dibuat dengan menggunakan buis beton dan penutup serta diberi lubang untuk membuang sampah organik.
Melalui wadah tersebut, masyarakat bisa mengolah sampah organik secara mandiri di lingkungan sebab satu "tempa dedoro" bisa digunakan untuk 3-4 kepala keluarga.
Sementara untuk menghilangkan aroma dari sampah organik dan sisa makanan, bisa menyemprotkan cairan EM4, sekaligus mempercepat penguraian. Selain itu bisa juga menggunakan air bekas cuci beras yang mudah didapatkan.
"Setelah sampah organik terurai dalam waktu sekitar satu tahun, masyarakat bisa panen kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman yang ada di pekarangan rumah," katanya.
Setelah semua berjalan, lanjut doa, masyarakat diharapkan berpartisipasi membuat "tempah dedoro" secara mandiri, begitu juga dengan pusat perkantoran, hotel, restoran, katering, dan sekolah.
Baca juga: Pengolahan sampah menggunakan 'tempah dedoro' dikembangkan di Mataram