DLH tekan 60 persen sampah organik di Mataram melalui 'tempah dedoro'

id DLH,Kota Mataram,tempah dedoro

DLH tekan 60 persen sampah organik di Mataram melalui 'tempah dedoro'

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi (Baju batik) melihat langsung pemanfaatan inovasi pengolahan sampah organik melalui "tempah dedoro" atau tempat sampah organik di rumah warga di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kecamatan Selapang, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis (8/1-2026). ANTARA/Nirkomala.

Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengatakan optimistis mampu menekan volume sampah organik hingga 60 persen melalui sistem pengolahan sampah organik menggunakan "tempah dedoro" atau tempat sampah, khusus sampah organik sebagai upaya penanganan sampah secara mandiri.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Kamis, mengatakan, program "tempah dedoro" kini sudah berjalan dua bulan di Lingkungan Marong Karang Tatah, Mataram, dan sudah berhasil mengurangi volume sampah organik di lingkungan tersebut.

"Dari sehari biasanya produksi sampah di lingkungan tersebut mencapai 180 kilogram, kini hanya 80 kilogram," katanya di sela meninjau pemanfaatan "tempah dedoro" di sejumlah rumah warga di Lingkungan Marong Karang Tatah, Mataram.

Menurutnya, apabila program tersebut dapat dilaksanakan secara masif pada 325 lingkungan se-Kota Mataram, maka volume sampah yang akan ditangani petugas DLH hanya sekitar 40 persen.

Artinya, dari volume sampah di Kota Mataram sekitar 250 ton per hari, sekitar 60 persen merupakan sampah organik atau sekitar 150 ton dapat diolah melalui inovasi "tempah dedoro".

Sementara 40 persennya atau sekitar 100 ton sampah organik berupa plastik dan lainnya, akan dialihkan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sandubaya, untuk diolah menjadi batako.

"Sisanya merupakan residu yang sudah tidak bisa diolah, akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat," katanya.

Melalui sistem "tempah dedoro" masyarakat bisa memanen kompos sekitar 6-8 bulan untuk dimanfaatkan di tanaman pekarangan.

Sistem pengolahan sampah organik dengan "tempah dedoro" dinilai efektif karena dapat mengurai sampah dari 1 ton menjadi kompos sekitar tiga karung, satu karung berisi sekitar 25 kilogram.

"Dari satu ton sampah, kita bisa diurai jadi kompos 75 kilogram, atau hanya 7,5 persen," katanya.

Terkait dengan itu, setelah dilakukan uji coba di Lingkungan Karang Tatah dengan 25 unit "tempah dedoro", pihaknya sedang menyiapkan konsep untuk lingkungan lainnya di 50 kelurahan se-Kota Mataram.

"Target kami tahun ini, satu kelurahan satu lingkungan menjadi lokasi program "tempah dedoro"," katanya.

Denny menargetkan, apabila program "tempah dedoro" bisa dilakukan secara masif tahun 2026, maka 2027 volume sampah di Kota Mataram yang dibuang ke TPA akan turun drastis hingga 60 persen.

"Apalagi tahun depan, TPST Kebon Talo Ampenan juga ditargetkan mulai beroperasi," katanya.

"Tempah dedoro" atau tempat sampah organik di rumah warga di Lingkungan Marong Karang Tatah, Kecamatan Selapang, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, bisa untuk tempat santai tanpa terganggu dengan bau sampah. Kamis (8/1-2026). ANTARA/Nirkomala.

Denny menambahkan, sistem pengolahan sampah melalui "tempah dedoro" itu dibuat dengan menggunakan buis beton dan penutup serta diberi lubang untuk membuang sampah organik dan bisa menjadi tempat untuk bersantai.

Baca juga: Mataram uji coba pengolahan sampah sistem 'tempah dedoro'

Melalui wadah tersebut, masyarakat bisa mengolah sampah organik secara mandiri di rumah atau lingkungan masing-masing.

Sementara untuk menghilangkan aroma dari sampah organik dan sisa makanan, masyarakat bisa menyemprotkan cairan EM4 sekaligus mempercepat penguraian.

Selain itu, masyarakat juga bisa menggunakan air bekas cuci beras yang mudah didapatkan.

"Setelah sampah organik terurai, masyarakat bisa panen kompos sebagai pupuk alami untuk tanaman," katanya.

Baca juga: Pengolahan sampah menggunakan 'tempah dedoro' dikembangkan di Mataram

Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.