Mataram (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mewaspadai potensi lonjakan harga 14 komoditas pangan strategis akibat peningkatan permintaan masyarakat selama periode Ramadhan hingga Lebaran 2026.

Pelaksana tugas Kepala Disperindag Provinsi NTB Irnadi Kusuma mengatakan stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok menjadi perhatian utama pemerintah daerah guna menjaga daya beli masyarakat.

"Sebagian besar komoditas cenderung mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya permintaan. Kenaikan kerap terjadi secara mendadak," ujar Irnadi Kusuma di Mataram, Sabtu.

Irnadi menegaskan komoditas bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, telur, daging ayam dan daging sapi harus dipastikan tersedia di pasar dengan harga terjangkau agar tidak membebani masyarakat.

Baca juga: Jelang Ramadhan, Lombok Tengah gelar pangan murah tekan harga

Beberapa hari terakhir komoditas pangan sempat terjadi penurunan harga, namun kembali mengalami kenaikan. Ia memastikan harga pangan berpeluang kembali normal pada akhir Februari 2026.

"Faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga adalah ketersediaan barang di pasar," kata Irnadi.

Lebih lanjut ia mengungkapkan sejumlah tantangan stabilitas harga yang dipengaruhi kondisi geografis daerah kepulauan yang berdampak terhadap distribusi, perubahan iklim, serta biaya logistik antar pulau yang tinggi mencapai 15–20 persen dari harga pokok komoditas.

Disperindag NTB memperkuat koordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah kabupaten/kota guna memastikan kesiapan stok dan langkah pengendalian harga.

"Komunikasi intensif dilakukan bersama Perum Bulog guna memastikan ketersediaan dan intervensi stok berjalan optimal," pungkas Irnadi.

Baca juga: Jelang Ramadhan, Senator Mirah dorong distribusi ikan dan stabilisasi harga di NTB
Baca juga: Sambut Ramdahan, Pengawasan kebutuhan pokok di Mataram dioptimalkan