Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengubah pendekatan sektor pertanian dari pola konvensional menuju sistem berbasis teknologi modern untuk menarik minat generasi muda mau menjadi petani.
"Kami sedikit demi sedikit bertransformasi dari konvensional ke modern," ucap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Lalu Mirza Amir Hamzah di Mataram, Sabtu.
Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani muda berusia 19 sampai 39 tahun di NTB tercatat sebanyak 225.483 orang atau sekitar 30,37 persen dari total 742.343 petani di provinsi tersebut.
Data statistik itu mengindikasikan sebanyak 70 persen petani di Nusa Tenggara Barat telah berusia 40 tahun ke atas.
Mirza mengatakan, sistem pengolahan lahan pertanian yang menggunakan alat-alat tradisional berbasis tenaga manusia menimbulkan kesenjangan antara jumlah petani muda dengan petani tua.
Menurut dia, transformasi pertanian modern menjadi salah satu strategi pemerintah daerah untuk mendongkrak regenerasi petani muda agar mau terjun langsung mengolah lahan pertanian.
Pemerintah NTB membentuk Brigade Pangan sebagai wadah bagi kelompok tani muda yang tidak hanya fokus terhadap produksi, namun juga mengelola usaha pertanian dari hulu hingga hilir.
Baca juga: Distan Mataram menyiapkan enam dokter hewan cek kesehatan kurban
Pesawat tanpa awak, alat memeriksa unsur hara tanah, hingga sistem pertanian presisi dalam berbagai program pertanian mulai diperkenalkan pemerintah melalui wadah Brigade Pangan tersebut.
"Kami dorong dengan teknologi supaya minat petani muda tumbuh," kata Mirza.
Populasi petani muda terbanyak berada di Kabupaten Lombok Timur mencapai 55.597 orang atau 24,66 persen, Kabupaten Lombok Tengah sebanyak 48.818 orang atau 21,65 persen, serta Kabupaten Bima mencapai 34.865 orang atau setara 15,46 persen.
Baca juga: Distan Mataram pastikan ketersediaan daging aman hingga Idul Adha
Pemerintah NTB menerapkan model percontohan sistem pertanian modern melalui program optimalisasi lahan seluas 130 hektare di Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.
Daerah itu sebelumnya hanya mampu ditanami padi sebanyak sekali setahun, namun kini bisa hingga tiga kali penanaman dalam setahun melalui dukungan sistem perpompaan.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026