Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendorong regenerasi petani dengan menghadirkan program Cabai Goes to School yang menyasar siswa SMK dan SMA guna menumbuhkan minat agribisnis sejak dini di kalangan anak muda.

"Program itu bertujuan memberikan edukasi kepada siswa didik agar mereka mampu dan memiliki keinginan untuk agribisnis," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Lalu Mirza Amir Hamzah di Mataram, Selasa.

Mirza mengatakan, pihaknya memilih cabai karena komoditas itu punya nilai ekonomi tinggi sekaligus kerap berkontribusi terhadap laju inflasi dalam struktur ekonomi Nusa Tenggara Barat.

Setiap awal tahun, harga cabai rawit merah selalu naik signifikan dan memberikan tekanan besar terhadap inflasi daerah. Harga cabai sempat menembus di atas Rp200 ribu per kilogram pada awal 2024 dan sekitar Rp150 ribu ketika awal 2025.

Harga cabai yang melambung tersebut disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari petani lokal akibat gagal panen yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadhan.

Menurut Mirza, edukasi budidaya cabai kepada generasi muda melalui sekolah punya manfaat strategis tidak hanya dari sisi ekonomi, namun juga aspek pengendalian harga.

"Kami mencanangkan program itu dapat diterapkan bulan ini," ucap dia.

Baca juga: Konservasi prioritas utama pengelolaan Geopark Rinjani

Program Cabai Goes to School tidak lagi terbatas pada siswa SMK Pertanian, tetapi diperluas ke SMA negeri dan swasta. Langkah itu diambil untuk memperluas jangkauan edukasi sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian.

Mirza menegaskan, program itu juga bertujuan mengubah pola pikir agar lulusan sekolah tingkat menengah tidak hanya berorientasi menjadi aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan di bidang pertanian.

Baca juga: NTB meresmikan pusat informasi Geopark Rinjani

Ia berharap Cabai Goes to School dapat menciptakan generasi petani milenial yang adaptif, produktif, serta mampu menjawab tantangan sektor pertanian di masa mendatang.

Berdasarkan hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2023 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani muda di Nusa Tenggara Barat yang berumur 19 sampai 39 tahun tercatat sebanyak 225.483 orang atau sekitar 30,37 persen dari total petani di wilayah tersebut yang mencapai 742.343 orang.

Populasi petani muda paling banyak di NTB berada di Lombok Timur mencapai 55.597 orang (24,66 persen), Lombok Tengah 48.818 orang (21,65 persen), dan Kota Bima (15,46 persen).



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026