Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram meningkatkan pengawasan harga dan distribusi bahan pokok, guna menjamin kelancaran pasokan kebutuhan pokok di daerah itu.

"TPID juga perlu mengoptimalkan pelaksanaan operasi pasar murah, serta memperluas kerja sama dengan berbagai pihak agar distribusi kebutuhan pokok tetap lancar dan tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat," kata Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman di Mataram, Kamis.

Hal tersebut disampaikan di sela kegiatan rapat koordinasi TIPD Kota Mataram terkait inflasi dan persiapan strategi menghadapi hari besar keagamaan, yakni Hari Raya Idul Adha tanggal 27 Mei 2026.

Dikatakan, berdasarkan hasil pemantauan di pasar, sejumlah komoditas strategis seperti cabai rawit, gula pasir, dan daging sapi masih berada di atas harga acuan.

Selain itu, ketersediaan elpiji 3 kilogram dan bahan bakar minyak (BBM) subsidi juga perlu terus dijaga agar tetap dapat diakses oleh masyarakat. Karena itu, perhatian tidak hanya difokuskan pada stabilitas harga, tetapi juga pada keberlanjutan pasokan.

"Kami tidak hanya berfokus pada stabilitas harga, tetapi juga perlu memastikan ketersediaan pasokan, termasuk elpiji dan BBM. Itu penting agar distribusi tetap lancar dan tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat," katanya.

Asisten II Setda Kota Mataram H Miftahurrahman sebelumnya mengatakan, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, menyebutkan salah satu penyumbang inflasi tahunan di bulan April 2026 adalah kenaikan tarif yang ditetapkan PTAM Giri Menang, sebesar Rp4.000 berlaku mulai 1 April 2026.

Baca juga: TPID NTB intervensi harga minyak goreng dan elpiji

Kenaikan tarif PTAM bersanding dengan cicilan perumahan, tarif listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebagai kelompok atau komoditas penyumbang inflasi tahunan sebesar 2,4 persen. Kelompok itu berada di urutan keempat kelompok penyebab inflasi tahunan.

"Sesuai data dari BPS, kelompok itu sebagai penyumbang inflasi tahunan. Salah satunya tarif air dan listrik," katanya.

Namun, secara umum inflasi di Kota Mataram masih stabil yaitu di bawah batasan nasional 2,5 persen plus minus 1 persen, sebab Kota Mataram masih 3,37 persen sampai bulan April 2026.

Baca juga: Kota Bima raih Juara TPID Berkinerja Terbaik tingkat nasional

Di sisi lain, kenaikan harga pada beberapa komoditas punya andil inflasi. Seperti kenaikan harga beras, daging ayam, daging sapi, tomat, apel, anggur dan tempe.

Sedangkan cabai rawit sampai bulan April harganya masih normal meski hasil pantauan dari tim, harga cabai rawit sempat naik lagi sampai dengan Rp70.000 per kilogram dari sebelumnya Rp50.000 per kilogram.

"Tapi kenaikan itu masih normal. Kenaikannya memang cepat sekali dan perlu kita antisipasi," katanya.

Kegiatan koordinasi dengan TPID, tambahnya, sekaligus untuk menyiapkan strategi menghadapi hari besar keagamaan, yakni Hari Raya Idul Adha tanggal 27 Mei 2026 dengan memastikan kesiapan-kesiapan terkait penyiapan bahan pokok penting menjadi konsumsi masyarakat.

"Kami ingin pastikan ketersediaan pasokannya, distribusi dan keterjangkauan harga di lapangan sesuai agar stabilitas pangan nasional terjaga, inflasi terkendali, dan daya beli masyarakat terlindungi," katanya.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026