Mataram (ANTARA) - Dunia dikejutkan oleh kabar syahidnya Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, sebagai akibat serangan balasan besarbesaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Israel, terhadap targettarget strategis di Iran pada akhir Februari 2026. 

Menurut media pemerintah Iran, Khamenei “syahid” dalam serangan tersebut, menandai berakhirnya salah satu kepemimpinan paling berpengaruh di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.

Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari, serta libur kerja seminggu sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya pemimpin yang telah memimpin negara itu sejak 1989. 

Siaran televisi pemerintah menyatakan Khamenei gugur saat menjalankan tugas kenegaraan di kompleks kediamannya di Teheran, yang menjadi sasaran dalam serangan gabungan tersebut.

Kabar ini juga diperkuat oleh pengumuman dari sejumlah media internasional yang melaporkan operasi militer besar yang menargetkan struktur kepemimpinan militer dan politik Iran, termasuk pusat komando di ibu kota Teheran. 

Serangan itu, menurut beberapa laporan, terjadi pada 28 Februari 2026 dan mencakup sejumlah fasilitas yang terkait dengan kegiatan militer dan nuklir Iran, serta lokasi kediaman para pejabat puncak negara.


Karier dan warisan 

Ayatollah Khamenei, yang lahir pada 17 April 1939, naik menjadi Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. 

Dalam lebih dari tiga dekade menjabat, ia menjadi simbol kekuatan politik dan religius terbesar di Iran, sekaligus arsitek kebijakan luar negeri yang tegas dan sering kontroversial. 

Kepemimpinannya mencakup hubungan tegang dengan kekuatan Barat, pengembangan program militer dan nuklir negara, serta dukungan terhadap sekutusekutu Iran di kawasan seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi di Irak dan Suriah.

Di dalam negeri, ia dikenal sebagai tokoh konservatif yang mempertahankan pengaruh kelembagaan ulama dalam sistem pemerintahan Iran. Khamenei juga kerap menyerukan perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai “arogan global,” merujuk kepada kebijakan luar negeri AS dan Israel.


Reaksi domestik dan regional

Kematian Khamenei memicu reaksi emosional di seluruh Iran. Televisi pemerintahan dan kantor berita resmi menyiarkan pesan duka dari pejabat tinggi negara, menggambarkan sosoknya sebagai pemimpin yang konsisten berdiri “di garis depan,” termasuk dalam menghadapi agresi asing. Keputusan berkabung massal mencerminkan peran besar Khamenei dalam struktur politik dan spiritual Iran.

Reaksi internasional beragam. Sementara pemerintah Iran dan Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan akan meluncurkan balasan terhadap agresi tersebut, pemerintah AS dan Israel membela aksi militer mereka sebagai bagian dari kampanye untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran. 

Dampaknya sudah terasa di kawasan, dengan laporan serangan rudal dari Iran terhadap target di Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah.


Kepemimpinan dan masa depan Iran

Dengan wafatnya Khamenei, Iran kini menghadapi proses transisi kepemimpinan tertinggi yang rumit secara konstitusional dan politis. 

Majelis Ahli Pemimpin Tertinggi, badan yang berwenang menunjuk pengganti, diperkirakan akan berkumpul untuk menentukan figur baru. Proses ini diprediksi akan menjadi momen penting yang menentukan arah kebijakan domestik dan luar negeri Iran dalam tahuntahun mendatang.

Peristiwa ini menandai titik balik dramatis dalam geopolitik Timur Tengah, dengan implikasi mendalam bagi keseimbangan kekuatan regional dan prospek stabilitas jangka panjang di kawasan yang selama ini menjadi titik fokus ketegangan global.

Baca juga: Khamenei syahid, Iran tetapkan 40 hari berkabung
Baca juga: Iran tunjuk pemimpin sementara usai Khamenei gugur, Balasan militer ditegaskan
Baca juga: Iran pilih pemimpin tertinggi baru setelah Khamenei gugur