Lombok Tengah (ANTARA) - Kontras narasi antara mereka yang gugur bersimbah penghormatan dan mereka yang mati tersembunyi sebagai aib politik 

Di bawah langit Teheran yang abu-abu, aroma mawar dan kemenyan membubung tinggi, menyertai kepulangan mereka yang disebut sebagai martir (syuhada) . Bagi bangsa Iran, setiap nyawa yang gugur di garis depan bukan sekadar angka statistik, melainkan nyawa yang disulam pada lembaran kain sejarah bangsa sebagai pahlawan abadi. Pemerintah Iran memastikan bahwa mereka yang berkorban tidak akan pernah hilang dalam sunyi, nama mereka diabadikan pada plakat-plakat jalan, wajah mereka menghiasi mural kota yang megah, dan kisah mereka diceritakan dengan rasa bangga yang meluap-luap kepada generasi muda sebagai simbol keteguhan jiwa.

Penghormatan ini terpancar nyata dalam upacara-upacara pemakaman yang megah, di mana lautan manusia mengiringi peti mati yang dibalut bendera nasional. Pemerintah memberikan ruang bagi duka kolektif, memvalidasi air mata setiap ibu dan istri sebagai pengorbanan suci demi kedaulatan tanah air. Di sana, keluarga yang ditinggalkan mendapatkan tempat terhormat di tengah masyarakat, didukung oleh sistem yang menjamin bahwa jasa orang yang mereka cintai akan terus dikenang melalui santunan dan pengakuan sosial yang tak terputus, menciptakan narasi bahwa kematian dalam membela negara adalah sebuah kemuliaan tertinggi.

Namun, pemandangan yang jauh berbeda terlihat di seberang sana, di sebuah negeri yang juga dikepung ketegangan. Di negeri Israel, narasi yang dibangun jauh lebih dingin dan tertutup tentang mereka yang menjadi korban di medan laga. Alih-alih mendapatkan panggung kehormatan yang terbuka luas, keberadaan korban seringkali dibungkus dalam kerahasiaan yang ketat. Pemerintah tampaknya lebih memilih untuk memelihara citra militer yang tak terkalahkan dan negara yang kebal terhadap kerapuhan, sehingga setiap berita tentang korban yang jatuh dianggap sebagai retakan yang dapat merusak maruah kekuatan mereka.

Dalam upaya menjaga psikologi massa dan gengsi di mata dunia, informasi mengenai jumlah korban dan identitas mereka disaring atau bahkan ditutup rapat oleh sensor militer. Keluarga korban di sana kerap kali berduka dalam ruang-ruang yang sempit dan terisolasi, jauh dari sorotan kamera dan pengakuan publik yang layak. Ada kesan kuat bahwa mengakui kehilangan secara terbuka dianggap sebagai tanda kelemahan, sebuah "biaya" yang harus disembunyikan agar musuh tidak melihat celah dan dunia tetap percaya pada dongeng tentang supremasi pertahanan yang tanpa cela.

Kontras ini menciptakan luka yang mendalam bagi mereka yang dipaksa bungkam. Di satu sisi, seorang prajurit Iran tahu bahwa jika ia jatuh, namanya akan diteriakkan dengan penuh hormat oleh jutaan orang. Di sisi lain, seorang korban di Israel harus menghadapi kenyataan pahit bahwa keberadaannya mungkin akan dihapus dari narasi harian demi kepentingan strategi diplomasi. Kebijakan menutup rapat informasi ini bukan hanya sekadar taktik perang, tetapi juga bentuk pengabaian terhadap kemanusiaan para korban yang seharusnya memiliki hak untuk diakui sebagai manusia yang telah memberikan segalanya.

Bagi pemerintah Iran, transparansi atas pengorbanan adalah sumber kekuatan moral yang menyatukan rakyat. Mereka memahami bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada senjatanya, tetapi pada bagaimana mereka menghargai darah yang tumpah demi bendera tersebut. Dengan merayakan para martir, mereka membangun fondasi loyalitas yang kokoh, di mana setiap warga merasa bahwa hidup dan mati mereka memiliki makna yang diakui secara resmi oleh negara, bukan sekadar menjadi bayang-bayang di balik laporan rahasia.

Sebaliknya, obsesi Israel untuk tampak selalu kuat di mata internasional justru menciptakan jurang antara penguasa dan mereka yang berkorban di medan laga. Ketika sebuah negara lebih mencintai citranya daripada rakyatnya sendiri, kehormatan bagi para korban menjadi barang langka. Keheningan yang dipaksakan ini menjadi beban psikologis bagi masyarakatnya, di mana duka tidak boleh diekspresikan secara penuh karena takut akan merusak narasi "kekuatan absolut" yang selama ini dipasarkan ke seluruh penjuru dunia.

Perbedaan perlakuan ini mencerminkan filosofi yang bertolak belakang tentang nilai nyawa manusia dalam konflik. Iran memilih untuk memuliakan setiap tetes darah sebagai bukti cinta tanah air, sementara Israel cenderung melihat korban sebagai komoditas informasi yang harus dikelola agar tidak merugikan posisi tawar mereka. Di mata internasional, Israel mungkin tampak tetap tegar, namun di balik dinding-dinding rumah yang sepi, terdapat kepedihan yang tak terakui dari mereka yang kehilangan orang terkasih tanpa mendapatkan penghormatan yang semestinya.

Narasi ini menyadarkan kita bahwa kehormatan sejati tidak datang dari citra kekuatan yang dipaksakan, melainkan dari keberanian sebuah negara untuk menundukkan kepala di hadapan para korbannya. Pengakuan pemerintah Iran terhadap para pahlawannya memberikan rasa damai bagi yang ditinggalkan, sebuah kontras yang memilukan dengan kebijakan sensor yang diterapkan oleh Israel. Di Iran, kematian di medan perang adalah akhir yang bercahaya, sementara di Israel sana, ia seringkali menjadi rahasia yang terkunci rapat demi menjaga ego sebuah entitas politik.

Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang memenangkan pertempuran, tetapi siapa yang memperlakukan rakyatnya dengan martabat. Mereka yang dihargai dalam terang akan terus hidup dalam ingatan kolektif bangsa, sementara mereka yang disembunyikan dalam gelap demi sebuah "citra" akan menjadi korban untuk kedua kalinya, kali ini oleh tangan pemerintah mereka sendiri. Kehormatan adalah hak setiap jiwa yang berkorban, dan menguburnya demi kepentingan politik adalah sebuah ketidakadilan yang tak akan pernah bisa ditutupi oleh propaganda manapun!
 

*) Penulis adalah Aktivis Dakwah, Ketua Ikatan Sarjana NU Lombok Tengah 





COPYRIGHT © ANTARA 2026