Mataram (ANTARA) - Sejarah Bani Israil bukanlah sekadar kronik tentang sebuah bangsa, melainkan sebuah narasi linear tentang fluktuasi iman, materialisme, dan konsekuensi transendental. Dalam diskursus akademik Islam, eksistensi mereka sering kali dijadikan cermin teologis mengenai bagaimana sebuah bangsa yang diberi keutamaan (fadhilah) dapat jatuh ke titik nadir kehancuran akibat pembangkangan yang sistematis. Penghancuran yang menimpa mereka sepanjang sejarah—mulai dari era Babilonia hingga Romawi—bukanlah suatu kebetulan geopolitik, melainkan sebuah bentuk sunnatullah yang bersifat ajeg bagi siapa pun yang melampaui batas.
Secara historis, Bani Israil dikenal sebagai bangsa yang paling banyak menerima bimbingan para nabi, namun sekaligus paling keras kepala dalam menentangnya. Akar kedurhakaan ini bermula dari mentalitas chauvinisme religius yang menganggap diri mereka sebagai "bangsa pilihan" tanpa perlu menjaga integritas moral. Al-Qur'an mengabadikan pola ini dalam Surah Al-Baqarah, menggambarkan bagaimana mereka dengan ringan melanggar perjanjian (mitsaq) dan bahkan melakukan tindakan ekstrem berupa pembunuhan terhadap para nabi yang mencoba meluruskan jalan mereka.
Puncak dari akumulasi dosa kolektif ini adalah hukuman berupa penghancuran total yang terjadi dua kali secara masif, sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Al-Isra' ayat 4-5. Tuhan menegaskan bahwa Dia menetapkan bagi Bani Israil kerusakan di muka bumi sebanyak dua kali, yang kemudian diikuti dengan hukuman melalui tangan hamba-hamba-Nya yang memiliki kekuatan besar. Penghancuran pertama terjadi di bawah kekuasaan Nebukadnezar II dari Babilonia, yang meratakan Yerusalem dan menghancurkan Haikal Sulaiman pada abad ke-6 SM sebagai respon atas kemerosotan moral dan penyembahan berhala mereka.
Hukuman tersebut tidak serta-merta membuat mereka sadar secara kolektif dalam jangka panjang. Setelah masa pembuangan, mereka kembali ke tanah suci namun pola kedurhakaan yang sama terulang kembali. Puncaknya adalah penolakan terhadap dakwah Nabi Isa as. yang berujung pada penghancuran kedua oleh Jenderal Titus dari Romawi pada tahun 70 M. Peristiwa ini bukan sekadar kekalahan militer, melainkan desolasi spiritual di mana mereka berdiaspora ke seluruh penjuru dunia tanpa memiliki kedaulatan, sebuah kondisi yang sering dirujuk ulama sebagai kutukan atas kesombongan mereka.
Menganalisis penghancuran yang dialami Bani Israil (dalam konteks entitas politik Zionis saat ini) memerlukan ketajaman dalam melihat "benang merah" metafisika sejarah. Meskipun secara teknis mereka saat ini memiliki kekuatan militer dan teknologi, secara substansial mereka tengah mengulangi pola yang sama, penindasan (dzulm), pelanggaran perjanjian internasional, dan kesombongan eksistensial. Dalam perspektif sosiologi Ibnu Khaldun, sebuah peradaban yang dibangun di atas fondasi ketidakadilan akan secara otomatis memicu mekanisme kehancurannya sendiri dari dalam.
Al-Qur'an dalam Surah Al-Isra' ayat 8 memberikan peringatan yang sangat relevan: "Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan sekiranya kamu kembali (kepada kedurhakaan), niscaya Kami kembali (memberikan azab)." Kata 'udtum 'udna (jika kamu kembali, Kami kembali) adalah hukum sejarah. Para ulama kontemporer berpendapat bahwa penghancuran saat ini—baik berupa kerentanan keamanan, degradasi moral internal, maupun isolasi global—adalah manifestasi dari "kembalinya" azab Tuhan atas pengulangan perilaku tiranik yang sama seperti pendahulu mereka.
Kaitan erat antara sejarah masa lalu dan hari ini terletak pada konsep istidraj (pemberian kenikmatan yang menjebak). Bani Israil saat ini mungkin merasa berada di puncak kejayaan, namun secara esensial, mereka sedang menggali lubang kehancuran mereka sendiri melalui tindakan destruktif terhadap kemanusiaan. Syekh Mutawalli al-Sya’rawi dalam tafsirnya menekankan bahwa kekuasaan yang diperoleh melalui kezaliman hanya akan bertahan selama masa ujian yang ditentukan, sebelum akhirnya direnggut kembali dengan cara yang menghinakan.
Ulama salaf maupun khalaf sepakat bahwa Bani Israil adalah prototipe bangsa yang "dimurkai" (al-maghdhub 'alaihim) karena mereka mengetahui kebenaran namun sengaja menyimpang darinya. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW memberikan isyarat eskatologis mengenai konfrontasi akhir zaman yang melibatkan Bani Israil. Namun, sebelum sampai pada fase tersebut, proses "penghancuran" yang mereka alami saat ini bisa dilihat dari sisi psikologis, hidup dalam ketakutan yang permanen dibalik tembok-tembok beton, sebuah kondisi yang persis digambarkan Al-Qur'an dalam Surah Al-Hasyr ayat 14.
Ketidakmampuan mereka untuk hidup berdampingan secara damai adalah hukuman Tuhan berupa tercerainya hati mereka. Allah SWT berfirman: "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah." Benang merahnya jelas, kehancuran sebuah bangsa tidak selalu dimulai dari ledakan bom, melainkan dari kerapuhan sosial dan hilangnya legitimasi moral di mata dunia. Apa yang kita saksikan saat ini adalah proses delegitimasi yang masif, yang dalam hukum sejarah adalah tahap awal dari keruntuhan fisik.
Secara teologis, penghancuran yang dialami hari ini—baik dalam bentuk serangan fisik dari lawan-lawan mereka maupun guncangan internal—adalah pengingat bahwa tidak ada bangsa yang kebal hukum Tuhan. Sejarah adalah laboratorium Tuhan, dan Bani Israil adalah subjek yang terus mengulangi eksperimen kegagalan yang sama. Jika dahulu mereka dihancurkan karena membunuh nabi, kini mereka menuai badai karena mencoba menghapus sebuah bangsa dari peta kemanusiaan.
Sebagai konklusi, saya ingin mengatakan bahwa sejarah kedurhakaan Bani Israil adalah siklus yang berulang karena faktor internal bangsa itu sendiri yang enggan tunduk pada nilai universal ketuhanan. Benang merah antara penghancuran masa lalu dengan krisis hari ini adalah konsistensi sunnatullah terhadap perilaku melampaui batas (al-'uluw). Penindasan yang mereka lakukan saat ini bukanlah tanda kekuatan, melainkan tanda dari fase akhir sebuah siklus peradaban yang menuju kejatuhan.
Penting pula untuk disadari bahwa narasi ini bukan sekadar tentang kebencian etnis, melainkan tentang peringatan moral bagi seluruh umat manusia. Tuhan tidak memandang bulu dalam menegakkan keadilan. Siapa pun yang mengambil jalan kesombongan dan kezaliman, maka ia tengah mendaftarkan dirinya ke dalam daftar tunggu kehancuran sejarah, sebagaimana yang telah dialami oleh Bani Israil berkali-kali.
*) Penulis adalah Aktifis Dakwah ; Pegiat Seni dan Budaya ; Pemerhati Geopilitik Global Independen
COPYRIGHT © ANTARA 2026