Jakarta (ANTARA) - Rak buku di sudut rumah kerap menjadi penanda perubahan kebiasaan keluarga.
Beberapa judul tersusun rapi, tetapi jarang dibuka. Di ruangan yang sama, layar gawai terus menyala, menarik perhatian anak-anak dengan gambar dan suara yang datang silih berganti.
Banyak orang tua mulai menyadari bahwa minat membaca bergeser, bukan karena anak kehilangan rasa ingin tahu, melainkan karena dunia digital menawarkan pengalaman yang serba cepat dan instan.
Anak-anak tumbuh dengan jari yang terbiasa menyentuh layar, lebih akrab dengan ikon dan video pendek dibanding halaman buku.
Di balik kemudahan itu, waktu untuk berhenti dan mengikuti alur cerita secara utuh semakin terbatas. Membaca, dalam konteks ini, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenal huruf, tetapi juga dengan kebiasaan meluangkan waktu, menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lain, serta melatih kesabaran dalam memahami sesuatu secara bertahap.
Suasana berbeda terlihat di Aula PDS HB Jassin, Perpustakaan Cikini, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada akhir pekan ini.
Sejak pagi, anak-anak datang bersama orang tua mereka. Sebagian membawa pensil warna, sebagian lain mengenakan kaus bergambar dinosaurus.
Di ruang tersebut, Trubus Niaga, PT Trex World Press, dan PNSO atau Peking Natural Science-Art Organization menggelar kegiatan bertajuk “Trex World: The Little Explorer” yang menggabungkan aktivitas literasi dan pengenalan sains.
Di salah satu sudut aula, seorang anak berhenti cukup lama di depan ilustrasi dinosaurus berleher panjang. Ia mengamati gambar itu, lalu bertanya tentang ukuran makhluk tersebut.
Orang tuanya membuka halaman berikutnya dan mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana. Interaksi semacam ini muncul di beberapa titik. Buku tidak hanya dibaca, tetapi menjadi bahan percakapan antara anak dan orang tua.
Membangun Kebiasaan
Manager Penerbit Trex World Press, Eko Martanto, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan berangkat dari upaya menyeimbangkan aktivitas fisik dan membaca.
Anak diajak bergerak melalui permainan, lalu kembali ke buku untuk mencari penjelasan. Dengan cara itu, membaca tidak ditempatkan sebagai kewajiban, melainkan sebagai bagian dari pengalaman yang mereka jalani.
Menurut Eko, peran keluarga tetap menjadi kunci dalam membangun kebiasaan literasi. Anak cenderung meniru apa yang mereka lihat.
Ketika orang tua meluangkan waktu untuk membaca atau membuka buku bersama, anak menangkap bahwa aktivitas tersebut merupakan bagian dari keseharian.
Ia mendorong orang tua memulai dari bacaan yang sesuai dengan minat anak, kemudian secara bertahap memperkenalkan tema yang lebih luas. Empat judul buku yang diperkenalkan dalam kegiatan ini disusun oleh tim penulis yang terhubung dengan lembaga riset di China. Dari sisi visual, ilustrasi dirancang lebih realistis dengan warna yang tajam.
Tujuannya agar anak dapat membayangkan bentuk dan lingkungan makhluk purba secara lebih konkret, tidak hanya sebagai gambar, tetapi sebagai bagian dari cerita yang mereka ikuti. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mendekatkan sains dengan dunia anak. Informasi tentang kehidupan purba tidak disajikan sebagai daftar fakta, melainkan sebagai narasi.
Anak diajak membayangkan bagaimana kondisi bumi pada masa lalu, bagaimana makhluk-makhluk purba tersebut hidup, dan bagaimana lingkungan membentuk cara mereka bertahan. Di tengah perkembangan teknologi digital, Eko menilai buku fisik tetap memiliki peran tersendiri. Ada pengalaman yang berbeda ketika anak membalik halaman dan melihat ilustrasi dalam ukuran penuh.
Membaca menjadi kegiatan yang melibatkan lebih dari sekadar penglihatan. Ritmenya lebih lambat, memberi kesempatan bagi anak untuk berhenti, kembali ke halaman sebelumnya, atau mengajukan pertanyaan.
Kebiasaan Membaca
Rangkaian kegiatan di aula dirancang seperti perjalanan kecil. Anak-anak berpindah dari satu pos ke pos lain dalam The Great Library Hunt, mencari petunjuk yang mengarahkan mereka pada bagian cerita berikutnya.
Di sesi Tales from Jurassic, pemandu menggunakan kostum menarik untuk menghidupkan kisah tentang makhluk purba. Di sudut lain, ruang dipenuhi kertas dan krayon untuk kegiatan mewarnai dan menggambar. Dari sana, dinosaurus muncul dalam berbagai warna sesuai imajinasi anak.
Penggagas kegiatan menekankan bahwa daya tarik visual tersebut tetap didasarkan pada informasi ilmiah. Anak tidak hanya diajak mengagumi bentuk dinosaurus, tetapi juga dikenalkan pada habitat dan peran makhluk-makhluk tersebut dalam sejarah bumi.
Dengan cara itu, sains diperkenalkan sebagai cerita tentang perubahan dan keterhubungan, bukan sekadar istilah yang harus diingat. Tantangan utama tetap berada di luar ruang kegiatan. Di rumah, kebiasaan sehari-hari kembali mengambil alih. Orang tua kerap berhadapan dengan keterbatasan waktu dan berbagai tuntutan pekerjaan.
Baca juga: Perpustakaan Dompu didorong jadi pusat belajar pelajar
Gawai sering menjadi pilihan praktis untuk mengisi waktu anak. Di sisi lain, membangun minat baca membutuhkan kehadiran yang lebih konsisten. Kegiatan seperti ini membuka ruang bagi keluarga untuk melihat bahwa belajar dapat berlangsung dengan cara yang menyenangkan.
Anak-anak datang sebagai peserta, lalu pulang membawa gambar, cerita, dan pertanyaan yang mungkin akan mereka ulangi di rumah. Dari percakapan sederhana itu, kebiasaan membaca dapat tumbuh secara perlahan.
Baca juga: Kemendes mengupayakan peningkatan literasi desa hadapi perubahan iklim
Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, meluangkan waktu untuk membuka buku memang membutuhkan upaya tersendiri. Namun dari proses itulah anak belajar untuk memahami, menyimak, dan membangun imajinasi mereka. Pengetahuan tidak hadir sebagai sesuatu yang dipaksakan, melainkan sebagai hasil dari rasa ingin tahu yang dipelihara.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Mengembalikan minat anak pada keajaiban membaca
Pewarta : Hanni Sofia
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026