Mataram (ANTARA) - Pengurus baru Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Nusa Tenggara Barat, di bawah komando DR. TGH. Sabarudin Abdurrahman selaku Ketua Harian, kini berada pada tantangan pengambilan keputusan yang krusial antara mempertahankan tradisi pembinaan lama atau melakukan lompatan inovasi. Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan "Pulau Seribu Masjid," potensi sumber daya manusia di bidang keagamaan, khususnya Al-Qur’an, sangatlah melimpah namun memerlukan manajemen pembinaan yang lebih terukur.
Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) maupun Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadits (STQH) bukan sekadar ajang seremoni tahunan, melainkan barometer keberhasilan pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Untuk meningkatkan prestasi NTB di kancah nasional, diperlukan langkah-langkah strategis yang komprehensif, mulai dari hulu hingga ke hilir, guna memastikan setiap cabang perlombaan memiliki daya saing yang tinggi.
Langkah pertama yang harus ditempuh adalah penguatan database profil qari-qariah, hafizh-hafizhah, dan mufassir-mufassirah di seluruh kabupaten/kota se-NTB. Tanpa data yang akurat, pemetaan kekuatan dan kelemahan pada cabang-cabang tertentu seperti Fahmil Qur’an atau Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) akan sulit dilakukan secara objektif.
Digitalisasi sistem seleksi dan pembinaan menjadi kunci utama dalam transparansi rekrutmen peserta. LPTQ NTB perlu membangun platform digital yang memantau perkembangan nilai dan kualitas peserta dari waktu ke waktu, sehingga proses penentuan delegasi provinsi didasarkan pada performa nyata (track record), bukan sekadar keberuntungan saat seleksi tingkat provinsi.
Jika kita menengok ke Provinsi Jawa Timur, kunci sukses mereka terletak pada sistem pembinaan yang terdesentralisasi namun terkontrol ketat oleh LPTQ Provinsi. Mereka memiliki pusat-pusat pelatihan unggulan di beberapa pesantren besar yang secara khusus menggarap cabang Tafsir dan Qira’at Sab’ah secara intensif sepanjang tahun.
Data menunjukkan bahwa Jawa Timur sering kali mendominasi juara umum karena mereka tidak mengandalkan "pelatihan dadakan" atau training center (TC) jangka pendek. Mereka melakukan pembinaan berbasis asrama yang berkelanjutan, di mana peserta dibimbing oleh dewan hakim nasional secara berkala melalui program rutin bulanan.
Lihat pula Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) Provinsi Kalimantan Timur telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mencetak prestasi gemilang di ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional melalui strategi pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Kunci keberhasilan mereka terletak pada sistem rekrutmen talenta muda berbakat dari tingkat kabupaten dan kota yang kemudian dibina secara intensif melalui pusat pelatihan terpusat (training center). Dalam proses ini, LPTQ Kalimantan Timur tidak hanya mengandalkan pelatih lokal yang kompeten, tetapi juga aktif mendatangkan pakar serta qari/qariah berkaliber nasional dan internasional untuk memberikan bimbingan teknis, pemahaman tajwid yang mendalam, serta penguasaan lagu (nagham) yang memukau, sehingga kualitas para peserta terus meningkat secara signifikan setiap tahunnya.
Selain aspek teknis, LPTQ Kalimantan Timur juga memberikan perhatian besar pada kesejahteraan dan dukungan psikologis para peserta binaan agar mereka dapat tampil optimal saat berkompetisi. Dengan menciptakan ekosistem pembinaan yang disiplin, suportif, dan berbasis pada evaluasi berkala, para pembina mampu mengidentifikasi serta memperbaiki kelemahan individu secara presisi sebelum menghadapi panggung nasional. Sinergi yang kuat antara dukungan pemerintah daerah, transparansi manajemen, dan semangat kompetitif yang sehat terbukti berhasil mengantarkan para duta Al-Qur'an dari Kalimantan Timur untuk terus mengukir prestasi terbaik, sekaligus memotivasi masyarakat luas untuk semakin mencintai dan mendalami nilai-nilai kitab suci.
Jawa Barat juga memberikan pelajaran berharga melalui integrasi kurikulum Al-Qur’an di sekolah-sekolah formal dan pondok pesantren. Sinergi antara pemerintah daerah, LPTQ, dan lembaga pendidikan memastikan bahwa regenerasi peserta MTQ tidak pernah terputus, karena bakat-bakat baru terus bermunculan dari akar rumput secara sistematis.
Langkah strategis selanjutnya bagi LPTQ NTB adalah melakukan zonasi pembinaan berdasarkan potensi wilayah. Misalnya, daerah yang memiliki tradisi kuat dalam bidang Tilawah diberikan dukungan lebih untuk menjadi pusat pelatihan cabang tersebut, sementara daerah dengan fokus hafalan yang kuat diarahkan untuk memperdalam cabang Tahfizh.
Peningkatan kualitas dewan hakim dan pelatih lokal juga menjadi prioritas yang tidak boleh ditawar. LPTQ NTB harus rutin menyelenggarakan orientasi dan sertifikasi bagi para juri di tingkat kabupaten/kota agar memiliki standar penilaian yang selaras dengan kriteria penilaian di tingkat nasional maupun internasional.
Selain itu, penguatan cabang-cabang "non-tradisional" seperti Syahril Qur’an dan Karya Tulis Ilmiah Qur'an (KTIQ) memerlukan pendekatan yang berbeda. Cabang ini menuntut kemampuan literasi, retorika, dan analisis mendalam. Oleh karena itu, LPTQ NTB perlu bekerja sama dengan akademisi dari perguruan tinggi untuk membimbing peserta dalam teknik penulisan dan penguasaan materi.
Program "Orang Tua Asuh" atau kemitraan dengan sektor swasta (CSR) juga bisa menjadi solusi pembiayaan pembinaan. Dengan dukungan finansial yang stabil, para peserta dapat fokus berlatih tanpa terbebani masalah ekonomi, serta mendapatkan jaminan kesejahteraan atau beasiswa pendidikan sebagai bentuk apresiasi atas prestasi mereka.
Optimalisasi Training Center (TC) harus diubah polanya dari sekadar karantina menjelang lomba menjadi laboratorium pembelajaran yang berkesinambungan. TC yang efektif adalah yang mampu membedah setiap detail kekurangan peserta, mulai dari teknik pernapasan, kefasihan makhraj, hingga penguasaan irama yang sedang menjadi tren di tingkat nasional.
LPTQ NTB juga harus mulai menginisiasi musabaqah-musabaqah tingkat kecil di luar agenda resmi pemerintah, seperti liga hafizh atau festival tilawah antar remaja. Hal ini bertujuan untuk mengasah mental bertanding para kader sedini mungkin, sehingga saat terjun di ajang MTQ sesungguhnya, mereka sudah memiliki kepercayaan diri yang matang.
Evaluasi pasca-event adalah hal yang sering terlupakan. Setiap kegagalan di satu cabang harus dibedah secara teknis: apakah masalahnya pada mental, teknik, atau kurangnya durasi latihan. Catatan evaluasi ini harus menjadi dasar bagi perbaikan kurikulum pembinaan di periode berikutnya agar kesalahan yang sama tidak terulang.
Kerja sama lintas sektoral antara LPTQ dengan Kanwil Kemenag dan Dinas Pendidikan sangat vital. Kurikulum muatan lokal mengenai Al-Qur’an di sekolah dapat menjadi sarana skrining awal untuk menemukan "permata tersembunyi" yang mungkin selama ini tidak terpantau oleh lembaga keagamaan formal.
Kesejahteraan para pembina dan guru Al-Qur’an di pelosok NTB juga harus diperhatikan. Mereka adalah ujung tombak yang paling awal menyentuh para calon juara. Memberikan penghargaan dan pelatihan peningkatan kompetensi bagi mereka secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas input peserta yang masuk ke tingkat provinsi.
NTB memiliki modal sosial dan spiritual yang sangat kuat untuk menjadi barometer pembinaan Al-Qur’an di Indonesia. Namun, modal tersebut harus dikelola dengan manajemen organisasi yang modern, profesional, dan transparan agar menghasilkan prestasi yang membanggakan bagi seluruh masyarakat Bumi Gora.
Ke depan, LPTQ NTB diharapkan tidak hanya mencetak juara secara kuantitas, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki kedalaman pemahaman terhadap nilai-nilai Al-Qur’an. Prestasi di atas panggung MTQ/STQH hanyalah syiar, sementara tujuan utamanya adalah membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat di Nusa Tenggara Barat.
Dengan komitmen bersama antara pemerintah, pengurus LPTQ, ulama, dan masyarakat, visi NTB untuk kembali masuk dalam jajaran lima besar nasional bukanlah hal yang mustahil. Kerja keras, doa, dan strategi yang tepat adalah kombinasi mutlak yang harus dijalankan secara konsisten oleh seluruh pengurus LPTQ di semua tingkatan.
Akhirnya, masyarakat NTB khususnya para pegiat Qur'an berharap momen pergantian pengurus ini bisa menjadi titik balik untuk merapatkan barisan, memperbaiki sistem, dan mengobarkan semangat pembinaan. Semoga ikhtiar Pemprov. NTB dalam memuliakan Al-Qur’an melalui pembenahan LPTQ selalu diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Amin...
*) Penulis adalah Sekretaris II LPTQ NTB
Pewarta : Lalu Faqih Saiful Hadie *)
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026