Kim: Korut akan memperlihatkan 'senjata strategis baru'
Rabu, 1 Januari 2020 13:27 WIB
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara pada Sidang Pleno ke-5 Komite Pusat ke-7 Partai Buruh Korea (WPK) pada foto tanpa tanggal yang dirilis Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA), Minggu (29/12/2019). (via REUTERS/KCNA)
Seoul (ANTARA) - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan, Rabu, negaranya akan terus mengembangkan program nuklir serta memperkenalkan suatu "senjata strategis baru" dalam waktu dekat ini, demikian dilaporkan media pemerintah KCNA.
Pernyataan itu dikeluarkan Kim setelah Amerika Serikat tidak menepati tenggat akhir tahun yang ditetapkannya untuk memulai kembali perundingan pelucutan senjata nuklir (denuklirisasi).
Kim sejak Sabtu (28/12) menggelar rapat komite pembuat kebijakan Partai Buruh selama empat hari karena Amerika Serikat belum menanggapi permintaannya untuk melunakkan sikap dalam membuka kembali putaran perundingan. AS menganggap batas waktu itu sebagai ketentuan yang tidak alami.
Kim sebelumnya memperingatkan bahwa ia kemungkinan akan mengambil "jalur baru" jika Washington tidak memenuhi harapannya.
Beberapa komandan militer AS mengatakan tindakan-tindakan yang kemungkinan dilakukan Pyongyang akan termasuk uji coba rudal balistik antarkawasan (ICBM), yang dihentikan sejak 2017, serta hulu ledak nuklir.
Tidak ada dasar bagi Korea Utara untuk mengikatkan diri lagi dengan penangguhan uji coba nuklir dan ICBM karena Amerika Serikat terus melakukan latihan perang bersama Korea Selatan. Mereka menggunakan persenjataan canggih dan menerapkan sanksi sambil melancarkan "tuntutan bagai gangster", kata Kim seperti dikutip KCNA.
Kim menyatakan tekad akan terus mengembangkan nuklir Korea Utara untuk pencegahan namun tetap membuka pintu bagi dialog.
Ia mengatakan "cakupan dan kedalaman" nuklir pencegah tersebut akan "dikoordinasikan dengan baik tergantung pada" sikap Amerika Serikat.
"Dunia akan menyaksikan sebuah senjata strategis baru yang dimiliki DPRK dalam waktu dekat," kata Kim, yang menyebut Korea Utara dengan nama resminya, Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK).
Sumber: Reuters
Pernyataan itu dikeluarkan Kim setelah Amerika Serikat tidak menepati tenggat akhir tahun yang ditetapkannya untuk memulai kembali perundingan pelucutan senjata nuklir (denuklirisasi).
Kim sejak Sabtu (28/12) menggelar rapat komite pembuat kebijakan Partai Buruh selama empat hari karena Amerika Serikat belum menanggapi permintaannya untuk melunakkan sikap dalam membuka kembali putaran perundingan. AS menganggap batas waktu itu sebagai ketentuan yang tidak alami.
Kim sebelumnya memperingatkan bahwa ia kemungkinan akan mengambil "jalur baru" jika Washington tidak memenuhi harapannya.
Beberapa komandan militer AS mengatakan tindakan-tindakan yang kemungkinan dilakukan Pyongyang akan termasuk uji coba rudal balistik antarkawasan (ICBM), yang dihentikan sejak 2017, serta hulu ledak nuklir.
Tidak ada dasar bagi Korea Utara untuk mengikatkan diri lagi dengan penangguhan uji coba nuklir dan ICBM karena Amerika Serikat terus melakukan latihan perang bersama Korea Selatan. Mereka menggunakan persenjataan canggih dan menerapkan sanksi sambil melancarkan "tuntutan bagai gangster", kata Kim seperti dikutip KCNA.
Kim menyatakan tekad akan terus mengembangkan nuklir Korea Utara untuk pencegahan namun tetap membuka pintu bagi dialog.
Ia mengatakan "cakupan dan kedalaman" nuklir pencegah tersebut akan "dikoordinasikan dengan baik tergantung pada" sikap Amerika Serikat.
"Dunia akan menyaksikan sebuah senjata strategis baru yang dimiliki DPRK dalam waktu dekat," kata Kim, yang menyebut Korea Utara dengan nama resminya, Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK).
Sumber: Reuters
Pewarta : Tia Mutiasari
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi telusuri identitas perempuan meninggal di Pantai Pandanan Lombok Utara
19 January 2026 19:16 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
AS buka pintu diplomasi dengan Iran di tengah peningkatan militer di Teluk Persia
02 February 2026 12:51 WIB
Iran buka peluang perundingan nuklir dengan AS, Asal kepercayaan dipulihkan
02 February 2026 12:46 WIB
Presiden Trump kukuh pertimbangkan serang Iran meski tiada ancaman langsung
31 January 2026 5:51 WIB