Mataram, 8/6 (ANTARA) - Konsumsi solar di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami peningkatan akibat pemadaman listrik yang sering dilakukan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

   Sales Representatives Pertamina Depo Ampenan, Jimmy Wijaya, di Mataram, Selasa, mengakui konsumsi solar mengalami peningkatan dari konsumsi normal sebanyak 120 kilo liter per hari, naik menjadi 180 kilo liter per hari.

   "Peningkatan konsumsi ini mungkin akibat pemadaman listrik yang sering terjadi, sehingga warga atau kalangan dunia usaha mengoperasikan genset berbahan bakar solar untuk mendapatkan energi listrik," ujarnya.

   Jimmy didampingi Administrasi Layanan Jual Bahan Bakar Minyak (BBM), Edwin, mengakui dampak listrik cukup berpengaruh terhadap penggunaan BBM khususnya solar.

   Solar pada masa krisis listrik sepertinya menjadi kebutuhan yang cukup penting terutama kalangan dunia usaha yang sangat membutuhkan pasokan energi listrik.

   "Solar yang kita distribusikan setiap Sabtu dan Senin dengan kisaran 700-800 kilo liter. Jumlah itu mengalami kenaikan dari sebelumnya," sebutnya.

   Administrasi Layanan Jual Bahan Bakar Minyak (BBM) Edwin mengatakan, suplai solar melalui Pertamina Depo Ampenan untuk berbagai segmen, antara lain SPBU, kapal laut untuk penumpang, stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan (SPBN) dan usaha kecil.

   Ia menyebutkan jumlah SPBU di wilayah NTB saat ini sebanyak 51 unit. Sebagian besar berada di wilayah Pulau Lombok yakni sebanyak 34 unit dan sisanya berada di wilayah Pulau Sumbawa.

   Jumlah itu akan bertambah tahun ini sebanyak satu unit dan akan beroperasi di wilayah Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur.

Sementara jumlah SPBN di wilayah Pulau Lombok, berada di tiga titik yakni masing-masing di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Kecamatan Gondang, Lombok Utara dan Labuhan Lombok, Lombok Timur.

   Edwin menyebutkan harga jual solar ke masyarakat terbagi dalam dua segmen yaitu harga industri dan harga subsidi. Klasifikasi harga tersebut juga berlaku untuk bahan bakar premium dan minyak tanah.

   "Harga solar subsidi ditetapkan Rp4.500 per liter, sementara harga industri sangat tergantung dengan harga solar internasional, bisa naik dan bisa juga turun," katanya.

   Ia menambahkan harga solar mengalami perubahan dua kali selama sebulan, masing-masing pada periode tanggal 1-14 dan tanggal 15-30 bulan yang bersangkutan.

   "Catatan harga terakhir, pada periode 1-14 Juni ini, solar harga industri sebesar Rp7.033 per liter, atau turun dari periode 15-30 Mei lalu dengan Rp7.609 per liter," katanya.(*)





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026