Mataram, 16/10 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus berupaya memperkuat cadangan pangan terutama untuk menghadapi cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi produksi pertanian.

   Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Nusa Tenggara Barat (NTB) Hj Husnanidiaty Nurdin, di Mataram, Sabtu, mengatakan kondisi cuaca yang kurang menentu bisa mempengaruhi pola tanam petani dan tanaman pertanian rentan terserang hama dan penyakit.

   "Tanaman pertanian yang terserang hama dan penyakit bisa mengakibatkan puso atau gagal panen, dan berimplikasinya pada turunnya produksi pertanian," katanya.

   Oleh sebab itu, kata dia, upaya mengantisipasi agar tidak terjadi kerawanan pangan, perlu dilakukan beberapa langkah terpadu seperti menggerakkan masyarakat agar termotivasi melakukan diversifikasi pangan dan tidak tergantung sepenuhnya pada beras sebagai pangan pokok.

   Selain itu, memperbanyak kapasitas cadangan pangan mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota hingga ke tingkat masyarakat.

   Untuk penguatan cadangan pangan di masyarakat, kata Husnanidiaty, dilakukan dengan memberikan bantuan dana melalui pembentukan lembaga distribusi pangan masyarakat (LDPM), lembaga usaha ekonomi pedesaan (LUEP), desa mandiri pangan serta memperbanyak lumbung pangan masyarakat.

   Seluruh lembaga tersebut memperoleh bantuan dana dari APBD dan APBN untuk memperkuat kapasitas cadangan pangan yang ada di wilayahnya masing-masing.

   "Hingga 2010, jumlah LDPM yang terbentuk sebanyak 25 lembaga, LUEP sekitar 20 lembaga lebih, dan desa mandiri pangan sudah ratusan desa. Lembaga penguatan cadangan pangan ini terus diperbanyak setiap tahun," katanya.

   Upaya lain yang dilakukan BKP NTB, kata dia, meningkatkan kapasitas swasta dan petani dalam penanganan pascapanen terkait  produk pangan yang dihasilkan.

   Pelaku usaha dan petani diberikan bantuan alat penanganan pascapanen. Mereka juga diberikan pelatihan bagaimana mengolah produk hasil pertanian sehingga bernilai tambah.

   Berbagai upaya itu, kata Husnanidiaty, harus ditunjang dengan optimalisasi peran penyuluh pertanian  di desa. Para penyuluh diharapkan bisa menyebarkan informasi kepada masyarakat terutama berkaitan dengan upaya penganekargaman pangan.

   "Upaya itu sudah dilakukan. Kita tidak perlu khawatir kekurangan pangan meski kondisi cuaca tidak menentu seperti sekarang," katanya.(*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026