Mataram (ANTARA) - Kapolda Nusa Tenggara Barat Brigjen Polisi Arif Wahcyunadi, mengatakan, penyidikan tindak pidana di wilayah hukumnya sudah didukung ahli forensik yang ditugaskan di Instalasi Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Mataram.
"NTB sudah punya ahli forensik sehingga berkurang ketergantungan pada Laboratorium Forensik Denpasar, Bali," kata Brigjen Wahcyunadi, di Mataram, Jumat, usai peresmian penggunaan instalasi forensik, Sekretariat Identifikasi Korban Bencana atau Disaster Victim Identification (DVI), dan ruang belajar dokter muda (koas) serta mushala Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ia mengatakan, meskipun ahli forensik di RS Bhayangkara Polda NTB itu baru seorang, tugas-tugas forensik sudah bisa dilaksanakan karena akan dibantu oleh staf forensik yang dididik secara berkala sesuai dukungan anggaran.
Saat ini pun, kata Wahcyunadi, sedang berlangsung pelatihan forensik dan DVI di RS Bhayangkara Polda NTB untuk mendapatkan staf baru berkemampuan penanganan forensik.
Pelatihan itu merupakan program kerja sama Polda NTB dengan Pemerintah Provinsi NTB dan Pemerintah Kota Mataram.
"Ke depan tentu akan ada penambahan ahli forensik beserta stafnya agar penanganan forensik dan DVI berjalan lancar sesuai harapan berbagai kalangan," ujarnya.
Dia mengakui, pelatihan forensik dan DVI itu merupakan tindak lanjut dari Sosialisasi dan Pelatihan DVI Tingkat Provinsi NTB, yang dipusatkan di Kantor Gubernur NTB, 14 April lalu, yang menghadirkan nara sumber dari Kedokteran Polri (Dokpol) Mabes Polri dan diikuti oleh pejabat dan petugas gabungan dari berbagai instansi dan organisasi kemasyarakatan.
Dengan demikian, Provinsi NTB sudah memiliki unit identifikasi korban meninggal akibat bencana yang diperkuat dengan Keputusan Gubernur NTB Nomor 260 Tahun 2008 yang juga mengatur tata cara pelaksanaannya.
Tim DVI itu beranggotakan berbagai unsur dan keterlibatan tim DVI itu sangat penting untuk mengatasi berbagai kendala saat terjadi bencana alam (natural disaster) maupun bencana yang disebabkan oleh manusia (man made disaster).
Pembentukan Tim DVI itu juga dilatarbelakangi posisi wilayah NTB yang berada pada deretan vulkanologi yang membentang dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku hingga Philipina.
NTB juga merupakan daerah tiupan angin barat yang cukup kencang sehingga mengakibatkan NTB rawan gempa bumi, banjir, tanah longsor, tsunami, kekeringan dan angin topan.
Namun, penanganan bencana tidak hanya tanggung jawab pemerintah daerah saja, melainkan membutuhkan partisipasi dan peran aktif berbagai pihak.
"Khusus peran identifikasi korban meninggal, tentu dibutuhkan tim identifikasi yang didukung dana operasional, SDM dan peralatan yang memadai," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026