Mataram, 2/2 (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH. M. Zainul Majdi mengatakan, warga dari Pulau Lombok dan Sumbawa yang berada di Mesir, masih aman dari berbagai hal yang tidak diiinginkan.
"Kami terus berkoordinasi dengan pejabat Kedutaan Besar RI di sana (Mesir, Red), bagaimana logistik di sana, dan memang harga-harga naik tetapi masih aman dan makanan masih ada," kata Majdi, di Mataram, Rabu, ketika mengomentari nasib warga asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang berada di Mesir.
Gubernur termuda di Indonesia yang baru berusia 38 tahun dan belum lama ini merah gelar Doktor ilmu tafsir Al Quran Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir itu, menyebutkan bahwa warga NTB yang berada di Mesir teridentifikasi sebanyak 100 orang lebih.
Umumnya, warga NTB di Mesir itu merupakan para pelajar dan mahasiswa, namun sebagian telah kembali ke Tanah Air, sejak meletus tragedi Mesir berdarah 25 Januari lalu.
"Masih ada sekitar 80 atau 90 orang NTB di sana, dan sebagian besar tinggal di Distrik-10, sekitar 15 kilometer dari pusat kota, sehingga cukup jauh dari konsentrasi massa di bundaran Al-Tahrir jantung kota Mesir," ujarnya.
Menurut Majdi, letak permukiman warga NTB di Mesir itu, secara fisik tidak banyak berpengaruh, namun pihaknya tetap memantau perkembangannya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya merasa perlu meningkatkan jalinan komunikasi dengan pejabat Keduataan Besar RI di Mesir, terutama dalam hal ketersediaan logistik untuk warga NTB itu.
"Masih ada makanan, mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujar ulama kharismatik di wilayah NTB itu.
Mesir dilanda kerusuhan hingga menjadi aksi pemberontakan terbesar kepada pemerintah yang pernah ada dalam sejarah Mesir itu, mencuat sejak 25 Januari 2011 yang diawali demonstrasi besar-besaran menentang Presiden Hosni Mubarak.
Demonstrasi besar-besaran itu terjadi saat peringatan ulang tahun kepolisian, rakyat Mesir memeringatinya dengan turun ke jalanan dalam jumlah masa dan menyebutnya sebagai The Day of Anger (Hari Kemarahan).
Protes terjadi di seluruh jantung Mesir, hingga polisi menembakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk menenangkan para demonstran.
Kemarahan rakyat Mesir itu erat kaitannya dengan harga pangan yang melambung tinggi, pengangguran meningkat, tidak ada kebebasan berbicara, hingga mencuat kemarahan rakyat di negeri itu.
Para aktivis pun mengajak seluruh rakyat untuk turun ke jalanan dan melakukan berbagai kegiatan seperti pemberantasan kemiskinan, korupsi, dan menggulingkan presiden yang telah menjabat selama tiga dekade itu.
Aksi menentang Presiden Hosni Mubarak itu terus berlanjut hingga kini, dan kondisi kehidupan di negara piramida itu semakin tidak menentu, ketika jaringan internet dan layanan pesan singkat (SMS) mati total.
Data versi Kementerian Luar Negeri, Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Mesir sebanyak 6.149 orang, terdiri dari 4.297 mahasiswa, 1.002 tenaga kerja, dan staf KBRI serta keluarganya. Saat ini, mereka membangun komunikasi di 20 posko.
Pemerintah Indoensia pun telah menyediakan pesawat dari maskapai Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air untuk langsung terbang ke Mesir. Tim evakuasi dipimpin Wakil Kasau Marsdya TNI Sukirno dan telah berangkat ke Mesir pada Senin (31/1) malam.
Pada evakuasi tahap awal, yang menjadi prioritas adalah anak-anak dan perempuan yang jumlahnya mencapai sekitar 1.200 orang.
TNI juga telah menyiapkan tim dan lima pesawat angkut C-130 Hercules untuk mengevakuasi WNI yang terjebak kisruh politik di Mesir. Namun ada beberapa mahasiswa yang tidak ingin pulang karena khawatir akan sulit kembali ke tanah Mesir lagi. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026