Mataram, 18/12  (ANTARA) - Sebanyak 450  orang Jamaah Haji  Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis,  tiba kembali di Bandara Selaparang Mataram, setelah lebih dari sebulan berada di Mekah dan Madinah untuk menunaikan rukun Islam kelima.

   Ratusan jemaah haji tampak gemberia, bahkan ada yang langsung bersujud syukur setelah turun dari tangga pesawat dan disambut haru keluarga yang telah lama menunggu di Bandara Selaparang.

   Menurut kebiasaan, jamaah haji NTB yang baru datang dari tanah suci Mekah ketika turun dari pesawat tidak lagi memakai pakaian Indonesia, tetapi mereka berpakaian Timur Tengah dengan memakai jubah dan ikat kepala.

   Pakaian Timur Tengah tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Lombok terutama bagi masyarakat yang baru kembali dari Tanah Suci.  Sepulang dari menunaikan ibadah haji jika tidak memakai jubah dan egal (ikat kepala) bahkan oleh sebagian jemaah dinilai hajinya tidak sempurna.

   H Jamiludih salah seorang jamaah haji yang baru tiba, sejak pagi rumahnya dipenuhi para peziarah sekaligus meminta doa agar mereka bisa bernasib dengan dirinya berangkat haji ke Mekah.

   Pada kesempatan itu, masyarakat yang datang berziarah diberikan oleh-oleh yang dinilai paling bagus, yakni minum air zam-zam walaupun hanya seteguk.

   Jumlah jemaah haji Kota Mataram sekitar 650 orang terbagi  dalam tiga kelompok terbang  (kloter) dan sisanya akan tiba kembali di Mataram akhir Desember 2008.

Kakanwil Depag NTB,  Drs H Lalu Suhaimi Ismy, mengatakan,  jumlah masyarakat NTB yang meninaikan ibadah haji tahun 2008 sebanyak 4.545 orang, dua diantaranya meninggal dunia.

   Jemaah Calon Haji (JCH) NTB hingga kini masih menggunakan embarkasi "antara" dengan singgah sekitar delapan jam di Bandara Juanda, kemudian  melanjutkan penerbangan Arab Saudi.

   Sebelumnya JCH NTB menggunakan embarkasi Surabaya dengan menginap di asrama haji Sukolilo.

  Dengan diberlakukannya embarkasi "antara" maka  JCH idak menginap di asrama Sukolilo, Surabaya, sehingga mampu menghemat biaya cukup signifikan.(*)





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026