Mekkah (ANTARA) - Jemaah haji asal Banten kehilangan sekitar Rp50 juta di pondokan nomor 326 wilayah Jumaizah Mekkah ketika kamar sedang kosong saat mereka melaksanakan sholat subuh di Masjidil Haram antara pukul 04.00 sampai pukul 06.00 waktu Arab Saudi Selasa (30/10).
  Kasi Keamanan Daker Mekkah Jaitul Mucklis Basyir mengatakan, di Mekkah, Rabu, mereka pernah menitipkan barang-barang berharga mereka, termasuk uang itu di `deposit box` pondokan ketika mereka meninggalkan kamar saat prosesi wukuf di Arafah.
  Saat mereka kembali, kamar mereka berantakan dan diketahui uang mereka telah hilang dari tempatnya.
  Lima jamaah yang kehilangan itu masing-masing, Safri Rp30 juta, Sodikin 2.200 riyal, Syarifudin Rp7 juta, Usman Abdullah Rp1 juta dan 2.100 riyal, serta Saifudin 1.000 riyal yang jumlahnya secara keseluruhan sekitar Rp50 juta.
  Pihak Daker Mekkah telah melaporkan kejadian tersebut untuk ditindaklanjuti sesuai hukum Arab Saudi. Sebelumnya juga pernah terjadi pencurian di pondokan Sektor 8 terhadap jamaah asal Jawa Timur dan akhirnya uangnya dikembalikan oleh pemilik pondokan.

   
Terpisah

  Sementara itu, jamaah ONH Plus Jamingan Atmorejo Ahmad (65) asal Siantar, Sumatera Utara, telah terpisah tiga hari dari rombongannya dan tidak dapat kembali. Dua hari ia menginap di Masjidil Haram dan satu hari di Misi Haji Indonesia karena sejak di Mina ia ditinggal rekan-rekannya termasuk juga isterinya Boini.
  Ketika di Mina, katanya, ia pergi ke dalam satu toko untuk membeli air mineral. Keluar dari toko, teman-temannya tidak ada lagi di depan toko dan sejak itulah dia tidak bisa kembali ke pondokannya karena ia tidak tahu tempatnya. Setelah `menggelandang` dua malam di Masjidil Haram - dengan harapan ketemu teman tapi ternyata tetap tak jumpa - ia akhirnya mengadu ke petugas haji Indonesia dan dibawa ke Daker.
  Setelah semalam di Daker, tempatnya juga tidak dapat dilacak karena nomor dalam gelangnya tercatat beda dengan rumahnya. Sementara nomor-nomor telepon yang dihubungi tak memberi jawaban walaupun terkadang terhubung, kata jamaah yang membayar masing-masing 8.500 dolar Amerika Serikat untuk berhaji dengan istrinya itu.
  "Bagaimana lagi, paspor pun ditahan biro perjalanan, dengan isteri pun tak dapat berkomunikasi karena telepon dua-dua ada di saya," kata pria pensiunan pekerja perkebunan sawit Bahjambi yang datang pada 16 Oktober 2012 dan direncanakan pulang pada 10 November 2012 itu.
  Ia mengaku hanya dikirim biro perjalanan dua orang bersama isterinya dari Medan, dan di Jakarta ia bergabung dengan 60-an orang lainnya berangkat menggunakan penerbangan asing, bukan Garuda Indonesia. Sedangkan 30-an orang tidak mendapatkan visa.
  Namun, katanya, ia telah dapat melaksanakan seluruh prosesi haji dengan baik walaupun kini empat anaknya masing-masing dua di Palembang, satu di Tambun Bekasi dan satu di Malaysia, terus-menerus menghubunginya karena mereka khawatir atas keselamatan kedua orang tuanya yang kini terpisah di Mekkah.
  Sementara itu, Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Daker Mekah Rabu siang mencatat, 217 jamaah haji Indonesia telah meninggal di Arab Saudi.
(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026