Mataram, 24/3 (ANTARA)- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengupayakan semua sekolah reot terbenahi pada 2012, agar tak ada lagi situasi belajar-mengajar dalam kondisi memprihatinkan.
   "Semua sekolah yang begitu (reot, Red) kami benahi, baik sekolah negeri maupun swasta," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Lalu Safi'i, di Mataram, Jumat, ketika menanggapi adanya sekolah reot di Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, yang ditinjau Gubernur NTB TGH. M. Zainul Majdi, Kamis (24/3).
   Majdi menyempatkan diri meninjau sekolah yang bangunannya mirip kandang ternak itu ketika melintas di jalur selatan Pulau Lombok, terkait peninjauan infrastruktur jalan dan jembatan di daerah itu.
   Sekolah itu merupakan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Wathan yang dikelola oleh Yayasan Nurul Wathan Areguling, yang sudah terdaftar di jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB. 
   Sekolah itu berada di sisi jalan lingkar selatan Pulau Lombok, yang cukup ramai dilalui warga, termasuk para wisatawan asing karena tidak jauh dari lokasi itu, terdapat pantai wisata Mawun, dan di balik bukit terdapat pantai wisata Selong Belanak.
   Kondisi bangunan sekolah tempat penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar sejak empat tahun lalu itu, sangat memprihatinkan.
   Dinding bangunan itu terbuat dari papan yang sudah terlihat keropos, meja dan kursi pun terkesan seadanya. Lantainya masih tanah dan bangunan itu terbagi dalam empat ruangan, namun umumnya tidak berpintu.
   Ruang belajar di pojok kanan mirip kandang ternak, karena selain dinding-dinding telah keropos, juga tercium bau pesing.
   Murid-muridnya pun tidak berseragam meskipun tangannya menggenggam buku, dan semua murid MI Nurul Wathan itu tidak menggunakan alas kaki.
   Safi'i mengatakan, MI dan sekolah lainnya yang berada dalam pengawasan langsung Kanwil Kementerian Agama NTB juga diperhatikan oleh Pemprov NTB, demi kelancaran kegiatan belajar-mengajar di sekolah itu.
   "Kalau ada MI atau MTs dan MA yang begitu, pasti kami sikapi karena ada dana bantuan sosial bidang pendidikan. Untuk 2011 bantuan sosial pendidikan itu dianggarkan sebesar Rp18 miliar, setiap sekolah dijatahkan sebesar Rp50 juta tapi hanya untuk rehabilitasi," ujarnya.
   Dengan demikian, kata Safi'i, sekolah reot di Desa Tumpak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, itu juga akan dibenahi, dengan dukungan anggaran bantuan sosial sebesar Rp50 juta.
   Safi'i mengaku tidak memiliki data lengkap tentang jumlah sekolah reot yang berada dalam pengawasan Kanwil Kementerian Agama NTB, meski dapat membantu dana rehabilitasi bangunan sekolahnya menggunakan dana bantuan sosial bidang pendidikan.
   "Kalau sekolah dibawah pengawasan Kanwil Agama kami belum punya data riil, kalau sekolah dalam pengawasan Dinas Dikpora NTB terdata sebanyak 410 unit, namun yang rusak parah sekitar 100 unit lebih," ujarnya.
   Ratusan unit Sekolah Dasar (SD) dikategori reot karena dindingnya terbuat dari papan yang mudah rapuh setelah terkena hujan dan terik matahari, bahkan ada yang menggunakan dinding dari anyaman bambu yang oleh masyarakat Lombok disebut bedek.
   Pihaknya telah memulai pengucuran dana rehabilitasi bangunan sekolah reot itu sejak awal tahun 2011 dan akan berlanjut di 2012.
   "Pak Gubernur menghendaki di akhir 2012 tidak ada lagi bangunan sekolah dalam kondisi memprihatinkan, sehingga semua sekolah yang pakai 'bedek' akan dibenahi agar aktivitas belajar-mengajarnya aman dan lancar," ujarnya. (*)
 

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026