Kejadian bermula ketika oknum pegawai negeri sipil (PNS) tersebut mengunjungi Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk menanyakan keberadaan salah seorang pasien atas nama Mahfud, kepada para petugas medis, Senin.
Ruangan pertama yang dituju Rasyid adalah ruangan unit gawat darurat (UGD), namun keluarga yang dicari tidak ditemukan. Ia kemudian menuju ruang poliklinik dan menanyakan kepada sejumlah petugas, namun tidak mendapatkan jawaban sesuai harapan.
Pencarian kemudian dilanjutkan menuju ruang perawatan. Rasyid kembali menanyakan tentang keberadaan pasien bernama Mahfud, namun para petugas memberikan informasi bahwa tidak ada nama pasien bernama Mahfud.
Sejumlah petugas medis bahkan menanyakan mengenai jenis penyakit yang diderita Mahfud, dengan tujuan agar bisa mengarahkan Rasyid ke ruang perawatan yang sesuai dengan jenis penyakit pasien, namun Rasyid menjawab "Saya tidak mau tahu jenis penyakitnya apa".
Rasyid kemudian menuju ruang perawatan Kemuning. Di ruangan tersebut ia diterima oleh Kepala Ruangan Kemuning, Muhammad yang langsung menanyakan mengenai nama pasien dan jenis penyakit yang diderita, sambil memegang pundak Rasyid.
Merasa tidak terima pundaknya ditepuk, Rasyid kemudian memukul dada Muhammad hingga jatuh ke lantai dan menimbulkan bekas memar. Aksi kekerasan yang dilakukan di hadapan sejumlah pengunjung dan petugas medis tersebut membuat suasana rumah sakit sempat gaduh.
Sejumlah satpam RSUP NTB datang ke ruang perawatan Kemuning dan langsung mengamankan Rasyid di ruang rapat utama.
Keributan kembali terjadi di ruang rapat utama antara Rasyid dengan Wakil Direktur RSUP NTB dr Lalu Ahmadijaya Sp.PD, yang emosi melihat aksi oknum PNS dari Kabupaten Lombok Utara yang menggebrak meja.
Pejabat RSUP NTB itu juga merasa kesal, karena perkataan Rasyid yang menuding manajemen RSUP NTB bobrok dan menganggap bodoh perawat dan para dokter di rumah sakit tersebut.
"Dr Salim spesialis penyakit paru yang merupakan dokter teladan dan mendapat penghargaan dari Gubernur NTB beberapa hari lalu, juga dikatakan bodoh sama dia. Itu yang membuat emosi kami terpancing," ujarnya.
Ketegangan akhirnya mereda. Wakil Direktur RSUP NTB memanggil seluruh petugas medis yang terlibat ribut dengan Rasyid dan mempertemukan mereka di ruang rapat utama. Sejumlah aparat kepolisian dari Polsek Mataram juga dihadirkan karena para petugas medis yang mendapat perlakukan kasar akan membawa masalah tersebut ke ranah hukum.
Wakil Direktur RSUP NTB mencoba untuk membicarakan persoalan tersebut secara kekeluargaan agar tidak berlanjut hingga ke ranah hukum. Sejumlah keluarga Rasyid juga turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Jalan damai akhirnya ditempuh setelah oknum PNS dari Kabupaten Lombok Utara itu dengan besar hati bersedia meminta maaf kepada seluruh manajemen RUSP NTB, termasuk dr Salim spesialis penyakit paru, yang dianggap bodoh. Keluarga Rasyid juga ikut meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kericuhan yang terjadi.
"Kata maaf itu yang sebenarnya kami tunggu dari tadi. Kalau itu bisa diutarakan mungkin persoalan ini tidak akan sampai sejauh ini. Apalagi pasien yang dicari itu bukan dirawat di RSUP NTB, melainkan di Rumah Sakit Risa Mataram," ujarnya.
(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026