"Kami khawatir jika kondisi ini berlangsung lama berdampak pada hasil produksi tangkapan nelayan yang tidak maksimal dan cenderung menurun. Bisa berimbas pada faktor penunjang inflasi di bidang perikanan terutama ikan laut, karena harganya naik dan langka," kata Ketua Komisi II DPRD NTB Lalu Satriawandi di Mataram, Kamis.
Ia mengatakan Komisi II DPRD NTB sebagai mitra Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB akan mengambil langkah segera dengan menemui KKP RI. Guna berkoordinasi dan menyuarakan persoalan yang dihadapi nelayan kecil terkait regulasi BBM subsidi bagi nelayan.
"Nelayan kita kebanyakan memakai BBM jenis Pertalite setelah dicabutnya Premium. Sementara Solar yang disubsidi dipakai oleh nelayan dengan kapasitas kapal besar. Sedangkan, nelayan yang kecil-kecil tidak dapat kebagian," ujarnya.
Baca juga: Pertamina di Mataram sediakan 12 tempat pendaftaran BBM subsidi
Selain BBM bersubsidi, pihaknya juga berharap KKP memperbanyak atau menambah jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang beroperasi dalam pemenuhan BBM subsidi tersebut. Karena menurutnya, jumlah SPBN di NTB masih sangat minim, sedangkan jumlah nelayan cukup banyak.
Oleh karena itu, anggota DPRD NTB dari Daerah Pemilihan (Dapil) pemerintah pusat memberikan perhatian khusus bagi nelayan-nelayan kecil dalam mengakses BBM subsidi. Termasuk beroperasinya kembali sejumlah SPBN di Pulau Lombok untuk memudahkan penyaluran BBM subsidi itu nantinya. "Yang jelas kami di Komisi II akan menginventarisir segala hal yang jadi masukan, tuntutan dan persoalan nelayan ke pusat," ucap Satriawandi.
Baca juga: Tambah lokasi pendaftaran subsidi tepat BBM, Pertamina ajak masyarakat Jatimbalinus daftarkan kendaraannya
Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim mengatakan diperlukan adanya regulasi khusus untuk nelayan kecil untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Mengingat, notabene nelayan menggunakan BBM jenis Pertalite setelah dihapus-nya Premium. Sementara BBM subsidi jenis Solar lebih banyak dinikmati nelayan dengan kapasitas kapal besar.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026