"Maret nanti transmisi disinkronkan dengan jaringan yang ada, sehingga jika terlaksana sesuai rencana maka akhir Maret 2012 sudah bisa dioperasikan," kata General Manager PT PLN Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) Akbar Ali, di Mataram, Rabu, dalam pertemuan koordinasi dengan Komisi III DPRD NTB.
Akbar dan para manager PLN NTB diundang Komisi III DPRD NTB, guna menjelaskan perkembangan kelistrikan di wilayah itu.
Ia mengatakan, PT PLN (Persero) berupaya meningkatkan tegangan jaringan listrik dari 20 KVA menjadi 150 KVA untuk transmisi di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, yang diawali di Pulau Lombok.
Dalam prosesnya, sempat mencuat permasalahan di enam titik terkait pemberian dana kompensasi untuk pemilik lahan yang dilewati kabel jaringan tegangan tinggi itu.
"Sekarang sudah selesai, meski hampir semua warga pemilik lahan yang dilewati jaringan sempat meminta konpensasi. Kami upayakan semua masalah terselesaikan dengan baik," ujarnya.
Menurut Akbar, jaringan tegangan tinggi 150 KVA yang sudah terbangun itu sepanjang 30 kilometer, yang terpusat di tiga transmisi yakni Ampenan (Kota Mataram), Jeranjang (Lombok Barat) dan Sengkol (Lombok Tengah).
Keberadaan jaringan listrik tegangan tinggi itu akan mengurangi 'byarpet' karena relatif aman dari kemungkinan gangguan teknis seperti jaringan terkena pohon tumbang.
"Berbeda dengan jaringan tegangan rendah 20 KVA yang rentan memicu 'byarpet'. Selama ini listrik sering padam di Lombok karena kami masih mengandalkan jaringan 20 KVA itu," ujarnya.
Akbar menambahkan, pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya, dan energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkit disalurkan melalui jaringan transmisi.
Sementara tegangan generator pembangkit listrik di wilayah NTB (Lombok dan Sumbawa) umumnya tegangan menengah dan rendah, sehingga perlu ditingkatkan lagi.
Secara nasional pun, sistem kelistrikan yang ada di Indonesia belum sepenuhnya terintegrasi pada jaringan transmisi tenaga listrik.
Saat ini sistem kelistrikan yang telah terintegrasi dengan baik hanya di pulau Jawa-Madura-Bali, dimana sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali memiliki dua sistem interkoneksi, yaitu Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV sebagai tulang punggung utama (Back Bone) jaringan dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV sebagai jaringan pendukung.
Sistem kelistrikan di Nusa Tenggara (NTB dan NTT), belum memiliki SUTET dan SUTT dikarenakan pada umumnya sistem kelistrikannya masih terisolasi dan tersebar serta kelas kapasitas pembangkit tenaga listrik yang dimiliki masih relatif kecil.
Karena itu, perlu peningkatan tegangan jaringan listrik yang bertujuan memperbesar daya hantar dari saluran (berbanding lurus dengan kuwadrat tegangan) dan juga untuk memperkecil rugi daya dan susut tegangan pada saluran transmisi.
Saluran transmisi merupakan saluran listrik dari sumber pembangkit tenaga listrik sampai transformer terakhir. Bisa berbentuk saluran udara (overhed lines) dan saluran kabel bawah tanah (underground cable).
"Kami mengharapkan dukungan semua pihak agar kualitas jaringan kelistrikan di wilayah NTB semakin baik dari tahun ke tahun," ujar mantan Manager Teknik PT PLN Wilayah NTB itu. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026