Mataram, 6/9 (ANTARA) - Komersialisasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara berkepasitas 25 Mega Watt (MW) yang dibangun di Dusun Taman dan Dusun Jeranjang, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), ditunda hingga Oktober 2012.
"Memang semula direncanakan tahapan komersial operasi atau Commercial Operating Date (COD) Agustus atau September, tapi karena ada kerusakan kondensor sehingga diperkirakan baru akan dikomersialisasi pada Oktober nanti," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi NTB Eko Bmabang Sutedjo, di Mataram, Kamis.
Ia mengatakan, sejak Juni pembangunan PLTU Lombok itu telah memasuki tahapan sinkronisasi sistem kelistrikan PLN di Pulau Lombok, yang diawali dengan persiapan "Silencer" kemudian masuk tahapan "loading test".
Sinkronisasi sistem itu, ditempuh setelah terlaksana tahapan uji keandalan (reliability run test) sistem selama 30 hari tanpa mesin mati, guna mengukur kapasitas energi listrik yang dihasilkan yakni 25 Mega Watt (MW) sesuai perencanaan.
Namun, tahapan sinkronisasi itu menemui kendala teknis, yakni kerusakan kondensor sehingga dihentikan dan diupayakan perbaikannya.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pihak PLN dan diperoleh jawaban sedang ada perbaikan kondensor, namun diupayakan terbenahi agar Oktober mendatang sudah bisa masuk tahapan COD," ujarnya.
Eko berharap kendala teknis dalam pembangunan PLTU Lombok itu dapat tertangani secara baik agar tahapan komersialisasinya tidak ditunda lagi.
Jika mengacu kepada jadwal pengoperasian PLTU Lombok itu, semestinya sejak pertengahan 2011 sudah terealisasi, namun terkendala teknis yakni kerusakan peralatan.
"Mudah-mudahan Oktober 2012 bisa terealisasi, karena kami akan segera mengajukan permohonan ke Istana, agar dapat diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat berkunjung ke NTB pada puncak peringatan Hari Nusantara pertengahan Desember 2012," ujarnya.
Pembangunan PLTU Lombok yang menggunakan peralatan dan teknologi dari China itu telah berkali-kali molor dari jadwal perampungannya, bahkan molornya telah lebih dari setahun.
Proyek PLTU Batubara di Lombok itu, semula hendak diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden Yudhoyono, saat peresmian Bandara Internasional Lombok (BIL) di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, sekitar 40 kilometer arah selatan Kota Mataram, pada 20 Oktober 2011.
Namun, proyek PLTU itu batal diresmikan karena belum rampung, akibat berbagai kendala teknis dan non-teknis.
Pemerintah membangun PLTU Batubara di Dusun Taman dan Dusun Jeranjang, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, yang dikerjakan sejak 30 April 2009.
PLTU yang dibangun di Dusun Taman dinamakan PLTU 1 Lombok berkapasitas 1 x 25 MW yang dibiayai oleh APBN sesuai DIPA Departemen ESDM tahun anggaran 2009, yang semula ditargetkan beroperasi pada triwulan kedua tahun 2010, namun tertunda hingga kini.
Total biaya pembangunan PLTU 1 Lombok itu sebesar Rp296,3 miliar, dan khusus tahun anggaran 2009 pelaksanaan proyek tersebut mendapat dukungan dana stimulus sebesar Rp68,8 miliar selain alokasi DIPA reguler tahun 2009 sebesar Rp64,2 miliar.
Pelaksanaan proyek PLTU 1 Lombok itu dipercayakan kepada perusahaan konsorsium yang terdiri dari PT Wasa Mitra Engineering, PT Twink Indonesia dan PT Ciria Putra Sinergi.
Sementara PLTU di Dusun Jeranjang dinamakan PLTU 2 Lombok berkapasitas 2 x 25 MW yang dibiayai dari anggaran PLN (APLN) yang juga merupakan bagian dari Program Percepatan 10 ribu MW Tahap I.
Pembangunan PLTU 2 Lombok itu dipercayakan kepada PT Barata Indonesia (Persero) dengan sistem "turnkey" (EPC), dengan nilai kontrak yang terbagi dalam dua bagian mata uang yakni sebanyak 30,7 juta dolar AS dan Rp354,3 miliar.
Pembangunan PLTU 2 Lombok, baru akan terlaksana setelah PLTU Lombok 1 yang tengah memasuki tahapan sikronisasi sistem itu dirampungkan. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026