"Ada kewaspadaan dini bagi warga yang bermukim di lereng bukit, dan BPBD provinsi maupun kabupaten/kota terus mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan itu," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB Bachruddin, di Mataram, Rabu.
Ia mengatakan, daerah rawan bencana tanah longsor di Pulau Lombok yang menjadi letak ibukota Provinsi NTB, antara lain Sembalun dan Belanting (Lombok Timur), Pusuk (Lombok Utara) dan Sekotong (Lombok Barat).
Semua daerah rawan longsor itu merupakan kawasan perbukitan, dan di lereng bukit kawasan itu terdapat lokasi permukiman yang sudah ada sejak lama.
Bahkan, bencana tanah longsor sudah sering terjadi di ketiga lokasi rawan bencana itu dalam beberapa tahun terakhir ini.
Kawasan perbukitan Pusuk misalnya, kembali terjadi bencana tanah longsor saat huyuran hujan deras pada Selasa (1/1) sekitar pukul 18.30 Wita hingga tengah malam.
Tiga titik ruas jalan dari Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB, menuju Tanjung, ibukota Kabupaten LOmbk Utara, tertutup material longsoran, sehingga aktivitas transportasi melalui jalur itu terhenti total.
Ruas jalan di perbukitan dan hutan Pusuk itu dilalui tak kurang dari 250 kendaraan besar dan kecil setiap hari, karena jarak tempuhya relatif pendek jika dibandingkan dengan jalur melewati kawasan wisata Senggigi.
Bukan cuma di tiga lokasi rawan bencana longsor itu yang memiliki kawasan permukiman, lokasi permukiman bermunculan di berbagai lereng bukit di Pulau Lombok, termasuk di Teluk Nare yang dihuni sedikitnya 100 kepala keluarga (KK).
"Semua lereng bukit itu rawan terkena bencana tanah longsor saat guyuran hujan deras, makanya masyarakat di kawasan itu ekstra waspada, dan kami terus mengimbau agar lebih berhati-hati jika mencuat hujan dengan intensitas tinggi," ujarnya.
Bachrudin yang masih menjabat Kepala Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTB itu mengaku selalu berkoordinasi dengan BPBD dan dinas sosial kabupaten/kota di wilayah NTB, untuk gencar meneruskan informasi tentang cuaca yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mataram untuk Pulau Lombok dan BMKG Bima untuk Pulau Sumbawa.
Salah satu informasi BMKG yakni perkiraan curah hujan dengan intensitas tinggi yang masih berpotensi terjadi hingga akhir Januari 2013.
Karena itu, selain kewaspadaan warga yang bermukim di lereng bukit rawan bencana tanah longsor, juga warga yang mendiami kawasan rawan banjir.
Kawasan rawan banjir di Pulau Lombok antara ruas jalan di kawasan wisata Senggigi hingga Pemenang, Lombok Barat, kemudian Serumbeng, Lembar dan ruas jalan menuju Pelabuhan Laut Lembar.
Selain itu kawasan rawan banjir di Lombok bagian selatan (Kabupaten Lombok Timur), Praya Barat (Lombok Tengah), Pogading (Lombok Timur).
Sedangkan kawasan rawan banjir di Pulau Sumbawa antara lain Taliwang (Sumbawa Barat), Dompu (Dompu) dan Raba Sape (Kota Bima). (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026