Kalau BBM tersebut dinaikkan dariRp4.500 menjadi Rp6.500 per liter, maka ini cukup memberatkanMataram,(Antara Mataram) - Rencana kenaikan harga bahan bakar minyak pada Juni 2013 cukup memberatkan para nelayan di Desa Labuan Lalar, Kabupaten Sumbawa Barat, yang setiap hari membeli premium untuk bahan bakar mesin perahu mereka.
Abuhurairah (35), salah seorang nelayan di Desa Labuan Lalar, Kecamatan Taliwang, yang dihubungi dari Mataram, Kamis, mengaku setiap melaut menghabiskan premium minimal lima liter.
"Kalau BBM tersebut dinaikkan dariRp4.500 menjadi Rp6.500 per liter, maka ini cukup memberatkan," katanya.
Ia mengatakan, kenaikan harga BBM Rp2.000 per liter itu cukup memberatkan nelayan, karena nelayan rata-rata menghabiskan lima liter.
"Kami harus menambah pengeluaran Rp10.000 per hari khusus untuk bahan bakar, belum lagi keperluan lain," katanya.
Ia mengaku menghabiskan bensin cukup banyak, karena harus mengejar ikan yang naik ke permukaan laut dengan menggunakan perahu motor. Cara memancing seperti ini dikenal dengan sistem "antena parabola", yakni umpan buatan yang ditarik menggunakan perahu motor.
"Dengan sistem memancing seperti ini membutuhkan bahan bakar cukup banyak, karena harus menggejar ikan yang ada di permukaan. Jadi mata kail yang kita tarik harus bisa melewati kumpulan ikan agar umpan dimakan," katanya.
Usman (37), nelayan lain di Labuan Lalar lainnya, juga mengaku berat dengan rencana kenaikan harga BBM tersebut, karena perahu yang digunakan untuk melaut menggunakan mesin tempel yang cukup boros bahan bakar.
"Sekali melaut saya menghabiskan minimal 10 liter, dengan kenaikan harga premium sebesar Rp2.000 per liter itu berarti ada tambahan biaya Rp20.000 sekali melaut. Ini cukup memberatkan, karena dalam sehari dibutuhkan uang untuk membeli bensin rata-rata Rp65.000," katanya.
Menurut dia, untuk bisa melaut setiap hari harus menyediakan biaya minimal Rp100.000, karena selain bahan bakar juga harus membeli oli untuk campuran bensin belum termasuk kebutuhan lainnya.
"Kalau dapat Rp100.000 dari hasil penjualan ikan kita masih merasa bersyukur. Dengan kenaikan harga BBM khususnya premium dan solar, cukup untuk membeli bahan bakar, tetapi tidak ada untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," katanya.
Sejumlah nelayan lainnya di Desa Labuan Lalar menyatakan akan istirahat melaut kalau memang benar harga BBM naik mulai Juni 2013, karena mereka tidak mampu membeli bahan bakar tersebut.
"Mungkin sebagian besar nelayan Labuan Lalar akan istirahat melaut, karena mereka tidak mampu membeli bahan bakar untuk mesin perahu. Karena itu, kami mengharapkan ada jalan keluar terbaik terkait rencana kenaikan harga BBM tersebut agar tidak memberatkan nelayan," katanya.
Pewarta : masnun
Editor:
Zulaeha
COPYRIGHT © ANTARA 2026