"Alasan bahwa PT GNE tidak menyetor deviden karena dipergunakan untuk menutup kerugian merupakan jawaban yang terlalu menyederhanakan persoalan," kata Wakil Ketua DPRD NTB Suryadi Jaya Purnama.
Mataram (Antara Mataram) - Politisi di DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mempertanyakan kinerja perusahaan daerah PT Gerbang NTB Emas (GNE) yang belum juga menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) meskipun aset dan modal perusahaan mencapai Rp13,3 miliar.

"Alasan bahwa PT GNE tidak menyetor deviden karena dipergunakan untuk menutup kerugian merupakan jawaban yang terlalu menyederhanakan persoalan," kata Wakil Ketua DPRD NTB Suryadi Jaya Purnama, di Mataram, Kamis.

Ia mengatakan, alasan tidak menyetor deviden oleh PT GNE itu tertuang dalam laporan pertanggungjawaban Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, yang disampaikan dalam sidang paripurna DPRD NTB, Senin (1/7) malam.

PT GNE yang terus merugi sejak 2011 hingga 2012 itu mengundang pertanyaan para politisi di DPRD NTB, termasuk Suryadi yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Mengapa rugi terus, padahal sudah diberikan tambahan modal berturut-turut setiap tahun. Pada 2012 diberi tambahan modal Rp4 miliar lagi, tapi selalu merugi, dan aset dan modal perusahaan juga besar," ujar Suryadi.

Penyertaan modal yang bersumber dari dana APBD untuk PT GNE mencapai RP11,3 miliar, terdiri dari Rp9,3 miliar nilai aset tetap dan Rp2 miliar dukungan modal usaha.

Semestinya modal usaha sebesar Rp2 miliar itu bisa menghasilkan PAD di 2011, namun ternyata tidak menghasilkan dan manajemen PT GNE mengklaim sedang dalam proses produksi.

Pada 2012, ditambahkan modal sebesar Rp2 miliar lagi, sehingga total modal mencapai Rp4 miliar, dengan nilai aset sebesar Rp9,3 miliar, namun belum juga menghasilkan pendapatan daerah.

Justru pada 2010, manajemen PT GNE menargetkan PAD sebesar Rp1 miliar, meskipun pada akhirnya hanya mampu meraih pendapatan sebesar Rp500 juta lebih.

Namun, PAD PT GNE di 2010 itu jauh lebih baik dari PAD 2008 hanya mencapai Rp100 juta, dan 2009 yang hanya naik menjadi Rp250 juta.

Kini, dalam dua tahun anggaran yakni 2011 dan 2012, PT GNE tidak menghasilkan PAD, karena alasan merugi.

Kini, PT GNE tengah menggeluti usaha pengembangan industri logam yang antara lain memproduksi beragam alsintan, sebagai salah satu sumber PAD Pemprov NTB.

Sumber PAD lainnya yang dapat dihasikan yakni perdagangan umum dan agribisnis komoditi unggulan daerah seperti sapi, jagung dan rumput laut (pijar).

Sebagai perusahaan daerah, PT GNE pun disyaratkan memberikan PAD sebesar 55 persen dari keuntungan dalam bentuk deviden.

Pemegang saham PT GNE saat ini adalah Pemerintah Provinsi NTB sebesar 99,7 persen, PT Muara Ema milik H. M. Anwar 0,1 persen, H. Lalu Mudjitahid dan H. Abdarab M. Saleh sebesar 0,1 persen. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026