"Sudah dua per tiga anggota Asita NTB menyetujui Musdalub, dan sehingga keinginan Musdalub itu diajukan ke DPP (Dewan Pimpinan Pusat) Asita," kata anggota Dewan Penasehat DPD Asita NTB H Muhammad Tahrir.Mataram (Antara Mataram) - Dewan Penasehat mengajukan Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Nusa Tenggara Barat (NTB) guna menyelamatkan organisasi dari perpecahan pengurus.
"Sudah dua per tiga anggota Asita NTB menyetujui Musdalub, dan sehingga keinginan Musdalub itu diajukan ke DPP (Dewan Pimpinan Pusat) Asita," kata anggota Dewan Penasehat DPD Asita NTB H Muhammad Tahrir, yang didampingi anggota Dewan Penasehat lainnya, kepada wartawan di Mataram, Kamis.
Ia mengatakan, Dewan Penasehat DPD Asita NTB sebanyak enam orang, dan lima orang sudah menandatangani surat pernyataan mendukung Musdalub, untuk diserahkan kepada Ketua DPP Asita H Asnawi Bahar, yang tengah berkunjung ke NTB.
Ketua DPP Asita itu berada di NTB guna menghadiri pasar wisata "table top" tingkat nasional, yang digelar di Mataram, 14-16 Februari 2014.
Kegiatan `table top` itu akan dipadukan dengan program Asita Famtrip ke berbagai objek wisata andalan di Pulau Lombok.
"Ini suratnya, yang akan kami sampaikan kepada Ketua DPP Asita, dan isinya meminta digelar Musdalub demi menyelamatkan organisasi dari ancaman perpecahan pengurus," ujar Tahrir sembari menunjukkan surat resmi yang telah ditandatangani lima dari enam orang anggota Dewan Penasehat DPD Asita NTB.
Tahrir menambahkan, pengajuan Musdalub itu ditempuh karena semakin banyak pengurus DPD Asita NTB beserta anggota yang mengundurkan diri, karena berseberangan ide dan paham dengan Ketua DPD Asita NTB Agus Mulyadi.
Pada Selasa (11/2), lima orang pengurus inti DPD Asita NTB itu menyatakan mengundurkan diri dari organisasi karena kecewa dengan pola kepemimpinan ketua.
"Kami mengundurkan diri karena merasa tidak mendapat manfaat dari organisasi Asita NTB yang saat ini dipimpin oleh Agus Mulyadi," kata M Basri, yang didampingi pengurus lainnya yang juga menyatakan mengundurkan diri.
Selain Basri selaku Koordinator Bidang Pemasaran dan Hubungan Luar Negeri DPD Asita NTB (pengelola usaha pariwisata Lombok Travel), empat orang pengurus inti lainnya yakni J N Wirajagat (pengelola De Tour Lombok) selaku salah seorang wakil ketua, dan Mujihat Thohir (pengelola Lombok Tour) selaku salah seorang wakil sekretaris.
Dua pengurus DPD Asita NTB lainnya yang juga mengundurkan diri yakni Badrun (pengelola Top Tours Lombok) selaku Ketua Bidang Tata Niaga, dan Ali Syahbana (pengelola Lombok Island Tour) selaku anggota Bidang Pemasaran dan Hubungan Luar Negeri DPD Asita NTB.
Menurut Tahrir, cukup banyak anggota Asita NTB dari total 141 orang anggota yang merupakan kalangan pengusaha jasa perjalanan wisata, yang enggan aktif dalam organisasi Asita NTB karena kecewa dengan pola kepemimpinan Agus Mulyadi.
Hal itu telah berlangsung cukup lama, dan salah seorang anggota Dewan Penasehat Asita NTB yakni H Ryan Bachtiar sudah pernah meminta pertanggungjawaban Agus Mulyadi selaku Ketua DPD Asita NTB periode 2012-2016.
"Makanya untuk menyelamatkan organisasi kami Dewan Penasehat Asita NTB meminta Agus Mulyadi mundur dari jabatan ketua, sekaligus kami mengajukan Musdalub ke DPP Asita," ujar Tahrir, mantan bos Agus Mulyadi di perusahaan Ideal World Tours and Advance.
Tahrir mengaku sejak awal dirinya tidak yakin Agus Mulyadi dapat memimpin Asita NTB, namun ia pun harus menghargai hasil Musda DPD Asita NTB pada Oktober 2012 yang menempatkan Agus Mulyadi sebagai pemenang dalam pemilihan Ketua DPD Asita, meskipun hanya beda satu suara dengan kandidat lainnya.
Pengurus senior di Asita NTB itu pun mengaku telah memberikan kepercayaan kepada Agus Mulyadi untuk memimpin Asita NTB, namun akhirnya juga dianggap belum mampu sehingga Tahrir pun ikut mendukung pelengseran Agus Mulyadi dari jabatan Ketua DPD Asita NTB.
"Sebagai bagian dari Asita sejak 1983, saya juga tidak ingin organisasi Asita NTB hancur, karena perpecahan di kalangan pengurus, sehingga sangat penting untuk digelar Musdalub," ujarnya.
Menanggapi usulan Musdalub itu, Agus Mulyadi yang dihubungi terpisah menanggapi dingin hal itu, dan menurutnya usulan tersebut hanya karena kasus suka dan tidak suka kepada dirinya.
"Biasalah itu, ibaran pohon kelapa, makin tinggi makin banyak terpaan anginnya," ujar Agus kepada wartawan. (*)
Pewarta : Oleh Anwar Maga
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026