Mataram, (Antara) - Ikatan Bidan Indonesia, Nusa Tenggara Barat menerapkan sistem pelayanan kebidanan kontinyu atau "continuity of care" sebagai salah satu upaya menekan angka kelahiran guna menyukseskan program Keluarga Berencana (KB) di daerah itu.
Ketua Pengurus Daerah Ikatan Bidan Indonesia (IBI) NTB Tuti Herawati di Mataram, Kamis, mengatakan, sistem pelayanan kebidanan kontinyu atau berkelanjutan itu dimulai dari pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi KB.
Selain itu, pelayanan perawatan dan pemeriksaan kehamilan. Pada saat perawatan kehamilan ini para ibu diperkenalkan tentang KB melalui kelas ibu hamil, bersalin dan inisiasi menyusui dini.
Anggota IBI selanjutnya memperkenalkan KB pascapersalinan, dilanjutkan dengan kunjungan neonatal yang merupakan pelayanan bayi baru lahir mulai dari usia nol ke satu bulan. Kemudian satu bulan hingga satu tahun dan satu tahun hingga lima tahun sebagai upaya memberikan pelayanan kesehatan terhadap anak.
"Kunjungan neonatal ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan dan kualitas hidup anak. Jangan sampai setelah lahir anak sakit kemudian meninggal," katanya.
Menurut dia, program "Continuity Of Care" sebagai upaya pengendalian jumlah penduduk diharapkan mampu menekan angka pertumbuhan penduduk khususnya di NTB termasuk angka kematian ibu dan bayi.
Angka kematian ibu dan bayi, katanya, merupakan salah satu tolok ukur dari penentuan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada sebuah daerah sehingga status kesehatan kabupaten/kota di NTB terlihat dari berapa jumlah angka kematian ibu dan anak.
Di NTB, saat ini "total fertility rate" (TFR) rata-rata sebanyak 2,8 atau sama dengan tiga anak per keluarga. TFR merupakan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
"Artinya, jumlah TFR di NTB masih di atas standar progam KB yang mencanangkan dua anak dalam satu keluarga sehingga upaya-upaya lainnya harus terus dilakukan," ujarnya.
Hal itulah yang harus menjadi perhatian dan upaya bersama bagi semua pemangku kepentingan agar dapat membantu pemerintah dalam upaya sosialisasi terhadap program KB sebagai upaya pengendalian jumlah penduduk.
"IBI dalam hal ini berperan memberikan pelayanan dan sosialisasi melalui program `continuity of care`," katanya.
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Mataram Sutrisno mengatakan, angka kelahiran total di wilayahnya rata-rata sebanyak 2,1 anak atau terendah jika dibandingkan dengan kabupatan/kota lainnya di NTB.
"Pencapaian itu dilakukan dengan berbagai upaya dan melibatkan ratusan kader KB yang ada di setiap lingkungan untuk memberikan sosialisasi dan pelayanan KB gratis bagi pasangan usia subur," katanya.