Data hasil Sensus Ekonomi 2016 ini juga bisa menjadi acuan mengambil kebijakan dalam rangka menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEANMataram (Antara NTB) - Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat mencatat jumlah usaha nonpertanian hasil pendaftaran Sensus Ekonomi 2016 mencapai 598.500 unit atau tumbuh 10,14 persen dibanding hasil Sensus Ekonomi 2006 sebanyak 543.400 lembaga.
"Bertambahnya usaha disebabkan pertumbuhan jumlah penduduk dan kondisi ekonomi yang terus membaik setiap tahunnya," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi, Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Kadek Adi Madri, di Mataram, Kamis.
Seluruh usaha tersebut, kata dia, tersebar di 10 kabupaten/kota di NTB.
Dari total jumlah usaha nonpertanian, sebanyak 144.800 usaha yang menempati bangunan khusus untuk tempat usaha.
Dengan demikian, sebanyak 453.700 usaha tidak menempati bangunan khusus usaha, seperti pedagang keliling, usaha di dalam rumah tempat tinggal, usaha kaki lima dan lain sebagainya.
Menurut Kadek, dari hasil Sensus Ekonomi 2016, tantangan yang dihadapi NTB cukup berat di era persaingan pasar bebas, mengingat lebih dari 75 persen usaha tidak menempati bangunan khusus untuk kegiatan usaha.
"Untuk itu, produktivitas dan daya saing usaha perlu ditingkatkan," ujarnya.
Sensus Ekonomi 2016, kata dia, merupakan amanat Undang-Undang Nomor 16 tahun 1997 tentang Statistik, di mana penyelenggaraannya dilaksanakan 10 tahun sekali, yaitu tahun yang berakhiran angka 6.
Sensus Ekonomi merupakan kegiatan pendataan lengkap atas seluruh unit usaha/perusahaan (kecuali sektor pertanian) yang berada dalam batas wilayah suatu negara.
Seluruh informasi yang dikumpulkan bermanfaat untuk mengetahui gambaran tentang struktur ekonomi suatu negara, baik menurut wilayah, lapangan usaha, maupun skala usaha.
"Data hasil Sensus Ekonomi 2016 ini juga bisa menjadi acuan mengambil kebijakan dalam rangka menghadapi pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN," ujar Kadek. (*)
Pewarta : Awaludin
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026