Pertumbuhan ekonomi NTB 2017 capai rekor tertinggi

id Pertumbuhan Ekonomi NTB

Dokumen - Presiden Joko Widodo (baju putih) panen jagung di Desa Kampasi Meci, usai membuka Festival Tambora Menyapa Dunia 2015, di Kabupaten Dompu, NTB. (Foto Antaranews NTB/Awaludin)

Pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang pada 2017 lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 5,72 persen
Mataram (Antaranews NTB) - Bank Indonesia merilis pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat tanpa sektor tambang mencapai 7,10 persen pada 2017 atau mencapai rekor tertinggi sejak 2009.

"Pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang pada 2017 lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 5,72 persen," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Achris Sarwani, di Mataram, Selasa.

Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi nontambang tersebut didukung oleh laju pertumbuhan ekspor domestik yang cukup tinggi sepanjang tahun 2017. Hal itu terkait peningkatan produksi tanaman palawija, khususnya jagung.

NTB mampu memproduksi jagung sebanyak 1,2 juta ton dari target 1,1 juta ton pada 2016. Angka produksi bertambah menjadi 1,5 juta ton pada musim tanam 2017.

Faktor pertumbuhan ekonomi lainnya, lanjut Achris, adalah meningkatnya konsumsi pemerintah dan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) mendorong membaiknya konsumsi domestik NTB secara agregat.

Realisasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB dengan perhitungan atas dasar harga berlaku pada triwulan IV 2017 mencapai Rp31,19 triliun.

"Dengan pencapaian realisasi tersebut, NTB menyumbang 0,98 persen terhadap PDB nasional," ujarnya.

Menurut Achris, untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang yang relatif tinggi, Pemerintah Provinsi NTB dan 10 kabupaten/kota harus benar-benar membangun sinergitas yang kuat.

Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemilihan industri potensial kompetitif daerah (IPKD) dengan menggunakan pemetaan indikator "export product dynamics" (EPD) sebagai indikator awal industri.

BI NTB, lanjut dia, telah melakukan analisis pemetaan indikator penentuan IPKD pada 31 industri berdasarkan hasil Survei Statistik Industri Manufaktur Besar dan Sedang 2014, yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu agroindustri, manufaktur dan jasa.

Dari hasil pemetaan tersebut, komoditas padi, sapi, jagung, dan rumput laut termasuk dalam kuadran yang unggul dari segi prospek dan potensi. Di samping sektor pariwisata pantai.

"Hasil pemetaan tersebut juga selaras dengan program Pijar (sapi, jagung dan rumput laut) yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi NTB," kata Achris. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar