Mataram, 16/7 (ANTARA) - Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Bupdar) Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai kurang memahami keberadaan musem sebagai salah satu objek wisata andalan dan merupakan pintu gerbang informasi kebudayaan yang ada di daerah ini.

   Kepala Museum Negeri Provinsi NTB, R. Joko Prayitno di Mataram, Kamis mengatakan, pihak Disbudpar tidak mencantumkan museum dalam brosur/katalog Visit Lombok Sumbawa (VLS) 2012, demikian juga dalam brosur untuk promosi pariwisata yang dikeluarkan oleh Departemen Budpar.

   "Saya pernah menyampaikan protes secara langsung pada rapat persiapan peluncuran VLS 2012, namun kurang pendapat respon. Di provinsi lain dalam brosur promosi pariwisata selalu mencantumkan keberadaan museum, karena keberadaan museum merupakan salah satu objek wisata yang perlu diperkenalkan," ujarnya.

   Ia mengatakan, museum negeri Provinsi NTB justru masuk dalam Guide Book Internasional yang diterbitkan di Jerman, karena mereka lebih memahami keberadaan museum sebagai objek wisata yang cukup menarik.

   Ia menambahkan, wisatawan dari luar negeri telah menjadikan museum sebagai kebutuhan baik untuk kepentingan hiburan, penelitian maupun informasi mengenai kebudayaan suatu negara atau daerah.

   "Sebagian orang di Indonesia mengungjungi museum hanya dua kali seumur hidup, yakni ketika masih menjadi pelajar, karena dibawa guru mereka dan ketika sudah menjadi kakek atau nenek mengantar cucu mereka, berbeda dengan orang luar negeri museum telah menjadi kebutuhan," katanya.

   Joko mengatakan, selama ini kalau ada tamu dari pusat atau wisatawan yang berkunjung ke NTB justru diarahkan ke sentra kerajinan atau artshop, padahal ketika datang ke satu daerah mereka perlu mengenal budaya dan adat istiadat dengan menyaksikan koleksi museum.

   Menurut dia, di Singapura museum menjadi salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan kendati harga tiketnya mencapai Rp100.000 per orang, sementara untuk masuk ke museum negeri Provinsi NTB hanya Rp500 hingga Rp1.000 per orang, namun pengunjungnya relatif kurang.

   "Ini akibat keberadaan museum tersebut kurang dipromosikan baik di dalam maupun luar negeri. Masyarakat terutama Dinas Budpar NTB sebagai 'leading sector' mestinya merasa bangga dengan keberadaan museum dan mempromosikan agar para wisatawan semakin ramai berkunjung," katan Joko.

   Museum Negeri Provinsi NTB yang berdiri di atas tanah seluas 1,4 hektare dengan luas bangunan 10.000 meter persegi, memiliki  7.358 koleksi dengan jumlah kunjungan akhir Juni 2009 mencapai 7.936 orang.

   Terdiri dari rombongan anak-anak sebanyak 6.170 orang, anak perorangan tujuh orang, rombongan dewasa 1.237 orang dan dewasa perorangan 522 orang.

   "Angka itu jauh meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 1.119 orang," ujarnya.(*)




Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026