Mataram, 10/8 (ANTARA) - Organisasi Pangan Dunia  (WFP)  berkomitmen  membantu Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengatasi permasalahan malnutrisi yang terus terjadi sepanjang tahun.

  "Permasalahan gizi buruk atau malnutrisi sangat kompleks dan hal itu merupakan pekerjaan rumah pemerintah, namun kami berkomitmen untuk terus membantu mengatasinya," kata Kepala Kantor Perwakilan WFP Mataram Seneviratne Somaratne, di Mataram, Senin.

  Somaratne mengatakan, WFP beroperasi di wilayah NTB sejak tahun 2005 dan terus berupaya membantu pemerintah untuk mencapai target pengurangan laju malnutrisi dan kematian ibu dan anak yang mencolok pada tahun 2010.

  Ia pun tidak memungkiri meskipun kehadiran WFP di NTB sudah lebih dari empat tahun namun kasus malnutrisi masih terjadi di berbagai daerah di NTB.

  Data versi Dinas Kesehatan NTB sejak tahun 2001 prevalensi penderita gizi buruk pada balita justru menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun.

  Pada tahun 2001 masih sebesar 3,73 persen, selanjutnya pada tahun 2002 prevalensi gizi buruk anak balita sebesar 4,15 persen, tahun 2003 sempat turun menjadi 3,31 persen, namun naik lagi pada tahun 2004 menjadi 4,09 persen.

  Pada tahun 2005 meningkat secara tajam menjadi 6,58 persen sehingga dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) kasus gizi buruk dengan jumlah kasus sebanyak 3.950 kasus, sebanyak 17.254 kasus di antaranya merupakan kasus klinis dan 2.185 kasus non-kilis.

  Prevalensi gizi buruk di NTB pada tahun 2006 hingga beberapa tahun kemudian turun, namun masih terus mencuat di sejumlah daerah.

  Selama tahun 2008 kasus gizi bermasalah yang ditemukan tercatat 1.207 kasus dan setelah ditangani sebanyak 892 orang penderita sudah membaik dan sisanya sebanyak 270 orang, termasuk 23 di antaranya merupakan kasus klinis atau  busung lapar.

  Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota di wilayah NTB, selama tahun 2008 jumlah penderita gizi buruk yang meninggal dunia   45 orang dari total penderita sebanyak 1.207 orang, sebanyak 466 di antaranya merupakan kasus klinis dan 471 kasus non-klinis.

  Pada tahun 2009, selama Januari-Maret misalnya, tercatat 59 orang dari 73 kasus yang ditemukan.

  Menurut pimpinan WFP Mataram, pada umumnya kasus malnutrisi itu dilatari oleh faktor kemiskinan, perilaku hidup, sumber daya manusia dan faktor lainnya.

  Karena itu, pihaknya terus berupaya membantu pemerintah mengatasi kasus malnutrisi dan kematian ibu dan anak melalui program yang berkelanjutan.

  WFP menerapkan program rehabilitasi gizi melalui posyandu, pemberian mie yang difortifikasi kepada ibu hamil dan ibu menyusui, dan pemberian biskuit fortifikasi kepada balita.

  Program lainnya  pemberian biskuit fortifikasi yang dilakukan setiap hari di kelas belajar siswa sekolah dasar (SD) untuk meningkatkan angka kehadiran dan kecerdasan.

  Program WFP lainnya yakni karya pangan dan pengembangan masyarakat, berupa proyek pembangunan yang bertujuan memberdayakan masyarakat kecil.

  WFP juga menawarkan sokongan teknis pada pemetaan dan analisis kerawanan pangan, berupa surveilans pangan dan persiapan bencana baik di pusat maupun di kabupaten/kota.

  "Kami tengah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk pemetaan dan analisis kerawanan pangan itu," ujar Somaratne. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026