Mataram (ANTARA) - Banjir yang melanda Kota Mataram dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar bencana alam yang menyapu rumah dan jalan. Ia hadir membawa pesan, mengetuk kesadaran kolektif kita sebagai manusia: masihkah kita hidup selaras dengan alam? Ketika air bah menembus batas ruang, hingga membanjiri pura-pura tempat umat bersimpuh dan mencari keteduhan batin, pertanyaan itu menggema lebih dalam dari sebelumnya.
Di antara lumpur yang menggenang dan puing-puing yang terserak, muncul gerakan sederhana namun penuh makna: aksi bersih-bersih pura. Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Gde Pudja Mataram, bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTB dan Pinandita Sanggraha Nusantara, bergerak bersama. Mereka tidak sekadar membawa sapu, sekop, atau cangkul, tetapi juga membawa nilai: nilai pengabdian, kebersamaan, dan kepedulian spiritual yang hidup dan menggerakkan.
Di Pura Nirmala, dan pura-pura lain yang terdampak, para dosen, mahasiswa, pinandita, dan umat bahu membahu. Yang dilakukan bukan semata membersihkan fisik bangunan suci, tetapi juga memulihkan batin kolektif—menghubungkan kembali manusia dengan semesta.
Spiritualitas
Aksi bersih-bersih ini bukan rutinitas biasa. Ia adalah bentuk spiritualitas yang membumi. Menyapu halaman pura menjadi simbol membersihkan ego, membasuh ketidakpedulian, dan menanam kembali nilai harmoni dalam diri dan lingkungan. Di balik gerakan tubuh yang lelah, ada denyut dharma yang hidup—bahwa menjaga kesucian bukan hanya melalui doa, tetapi juga melalui tindakan nyata yang peduli.
Kita sering memahami spiritualitas sebagai hal ritualistik, personal, bahkan privat. Namun kenyataan hari ini menuntut kita meluaskan makna itu. Spiritualitas juga berarti menjaga sungai tetap mengalir, memilah sampah dengan kesadaran, menanam pohon sebagai warisan, dan hadir untuk sesama ketika alam terluka.
Pengabdian
Bagi IAHN Gde Pudja Mataram, ini bukan respons sesaat. Inilah pengabdian dalam arti sebenar-benarnya, pengejawantahan tridharma perguruan tinggi yang tidak terjebak dalam seminar atau slogan, melainkan hadir dalam aksi nyata dan nilai hidup.
Inilah wajah pendidikan Hindu yang membumi: mencerdaskan nalar, menguatkan batin, dan menumbuhkan kepekaan ekologis. Pendidikan yang bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi menanamkan empati. Yang bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang sadar akan relasinya dengan alam dan sesama.
Gerakan Kecil, Makna Besar
Gerakan ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar. Ia bisa tumbuh dari kerja kecil yang dilakukan bersama. Dari peluh pinandita yang membersihkan altar dengan sepenuh hati, dari tangan mahasiswa yang mencangkul sisa lumpur, dari langkah-langkah kecil umat yang menolak menyerah menjaga rumah spiritualnya.
Banjir memang merendam, tapi juga menyadarkan. Ia menggugah bahwa relasi kita dengan alam tidak cukup dipulihkan lewat doa, tetapi harus dijaga tiap hari lewat gaya hidup dan sikap penuh tanggung jawab. Pura-pura itu tidak hanya dibangun dari batu dan arsitektur, tapi dari nilai, kesadaran, dan kepedulian bersama.
Bangkit Bersama Alam
Kini, saat air mulai surut, mari kita bangkit. Bukan hanya membersihkan lumpur, tapi juga memperbaiki pola hidup. Bukan hanya membangun ulang tempat ibadah, tapi juga menguatkan ikatan spiritual dengan bumi dan kehidupan.
Sebab menjaga bumi adalah menjaga jiwa. Dan dharma sejati tidak hanya bersinar di altar pemujaan, tetapi juga dalam setiap gerakan tangan yang penuh kasih, yang tidak tinggal diam ketika alam memanggil.
*) Penulis adalah Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi IAHN Gde Pudja Mataram
COPYRIGHT © ANTARA 2026