
SANGEANG API BIMA MASIH TETAP BERSTATUS WASPADA

Mataram, 27/8 (ANTARA) - Gunung Sangeang Api (1.842 meter diatas permbukaan laut) di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga kini masih berstatus waspada atau level II, sejak terjadi peningkatan kegiatan mulai 4 Juni 2009
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi NTB Heryadi Rachmat di Mataram, Kamis, mengatakan, secara visual ada perubahan dari sebelumnya, namun secara seismik selama Juli 2009 masih berstatus waspada.
Dia mengatakan, dari pantauan visual tampak embusan asap putih dengan ketinggian maksimum sekitar 25 meter dari puncak gunung tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan visual dari Pos Pengamatan Gunungapi, pada umumnya Gunung Sangeang Api diliputi asap awan berwarna putih dan tipis dengan ketinggian antara 5 hingga 30 meter di atas bibir kawah.
Kegempaan yang berhasil direkam seismograf mencatat gempa embusan terjadi 379 kali kejadian, gempa vulkanik A ( 240 kali), gempa vulkanik B (99 kali), gempa tektonik lokal (92 kali), gempa tektonik jauh (78 kali) dan gempa tektonik juga terasa, jumlah kegempaan tercatat 882 kali kejadian.
"Karena itu, kami rekomendasikan bahwa Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB (Badan Daerah Penanggulangan Bencana/BDPB)," katan Heryadi.
Selain itu juga dengan Pemerintah Kabupaten Bima (Satlak PB) tentang aktivitas Gunung Sangeang Api, masyarakat harap selalu mengikuti arahan dari BDPB dan Satlak PB.
Heryadi menuturkan, berdasarkan hasil pengamatan belum ada perubahan dari sebelumnya, namun pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi akan terus melakukan pemantauan kegiatan Gunung Sangeang Api dan hingga kini masih berstatus waspada atau level II.
Daratan di sekitar Gunung Sangeang Api kini tidak berpenghuni sejak tahun 1985, warga yang tinggal di lokasi tersebut dipindahkan ke Sangeang Darat (Kecamatan Wera).
Pemindahan pertama dilakukan setelah Gunung Sangeang Api meletus tahun 1953 dan sisanya setelah letusan kedua tahun 1985 sebanyak 263 KK, dengan diberi lahan 1 Ha/KK.
Lahan yang ada di sekitar Gunung Sangeang Api yang sudah ditinggalkan itu dijadikan ladang dan para peladang membuat rumah sementara terutama pada musim tanam, bulan Agustus-November dan musim panen Maret-April. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
