Gubernur NTB resmikan industri penyulingan cengkeh

id Cengkeh

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr H Zulkieflimansyah (tengah) didampingi Kepala Dinas Perindustrian NTB Andi Pramaria saat meresmikan sebuah industri penyulingan Cengkeh yang belokasi Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat, Selasa (12/3). (Foto Humas Pemprov NTB (1) (1/)

Mataram (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat H Zulkieflimansyah meresmikan sebuah industri penyulingan cengkeh yang belokasi Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat, Selasa.

Gubernur Zulkieflimansyah  menyambut baik hadirnya industri pengolahan hasil pertanian tersebut. Sebab, hadirnya industri tersebut selaras dengan visi baru Gubernur dan Wakil Gubernur NTB saat ini, yakni menghadirkan industri pengolahan.

"Persoalan kita saat ini adalah pengangguran dan kemiskinan," ungkap Doktor Zul sapaan akrab Gubernur NTB.

Untuk mengatasi kedua persoalan itu kata Doktor Zul adalah dengan membangun industri pengolahan sebanyak-banyaknya. Sehingga bahan baku hasil pertanian itu bisa diolah menjadi bahan siap pakai yang memiliki nilai ekonomis tinggi dibanding sebelum diolah.

Selain itu, hadirnya industri pengelohan akan menyerap banyak tenaga kerja yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat.

"Kalau masyarakat sudah kerja, maka akan ada gaji tetap. Sehingga ada jaminan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan," tegasnya.

Gubernur juga yakin, dengan hadirnya industri itu, maka produktifitas pertanian NTB akan meningkat. Begitu juga dengan produksi bidang bidang lain, seperti perikanan, kelautan dan peternakan.

"Tugas selanjutnya adalah undang masyarakat untuk belajar merakit mesin ini. Bikinkan replikanya dan serahkan kepada setiap desa di Lombok Utara," ujarnya.

Sementara itu, Ketua JP Institut Ainurrahman, yang menginisiasi industri tersebut menjelaskan keberadaan industri itu merupakan salah satu ikhtiar untuk mewujudkan NTB Gemilang. Termasuk proses recovery daerah setelah musibah gempa bumi tahun 2018.

"Program zero waste itu selaras dengan industri ini. Sebab, kami memanfaatkan limbah dari cengkeh untuk proses pembuatannya," jelasnya.

Ia juga menjekaskan proses penyulingan minyak cengkeh ini membutuhkan satu ton bahan baku dalam satiap produksinya. Dalam sehari, pihaknya bisa memproduksi dua kali. Sehingga bahan baku yang dibutuhkan setiap harinya sekitar dua ton.

"Dana yang dikeluarkan setiap kilonya adalah Rp1.500. Sehingga dalam sebulan sekitar 78 juta untuk bahan baku," jelasnya.

Minyak cengkeh yang dihasilkan katanya bisa mencapai 30 sampai 35 kg setiap produksi. Kemudian semuanya dipasarkan ke luar daerah.

Karena itu ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTB yang membangun pembangunan industri tersebut. 
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar