Mataram (ANTARA) - Di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya, Pulau Lombok menyimpan sebuah tradisi luhur yang menjadi simbol nyata dari semangat persaudaraan: Ngejot. Tradisi ini bukan hanya tentang memberi makanan, melainkan juga tentang menyemai cinta kasih, toleransi, dan persatuan di antara umat beragama.
Apa Itu Ngejot?
Istilah ngejot mungkin belum akrab di telinga semua orang, tetapi bagi masyarakat Bali dan Lombok, kata ini memiliki makna yang dalam. Ngejot adalah tradisi berbagi makanan kepada tetangga atau kerabat, tanpa memandang latar belakang agama, sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan dalam momen keagamaan.
Di Lombok, tradisi ini hidup dan tumbuh terutama di kalangan umat Hindu dan Islam, dan terus diperluas dalam hubungan lintas agama — termasuk dengan umat Kristen, Budha, bahkan antar suku.
Pelaksanaan yang Merangkul Semua
Tradisi ngejot biasanya dilakukan menjelang atau pada hari-hari besar keagamaan. Umat Hindu, misalnya, berbagi makanan saat Galungan, Kuningan, atau Nyepi, sementara umat Islam melakukannya saat Idul Fitri, Idul Adha, atau Lebaran Topat. Tak ketinggalan, umat Kristen juga membalas ngejot saat Natal dan Paskah, dan umat Budha saat Waisak. Bahkan pada Maulid Nabi, masyarakat Lombok memiliki tradisi ngundang begawe, mengundang kerabat dan tetangga untuk berbagi makanan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Wilayah seperti Karang Bayan di Lingsar dan Tanjung di Lombok Utara menjadi saksi hidup bagaimana ngejot bukan hanya tradisi, tapi juga jembatan budaya yang merekatkan keberagaman.
Simbol Persaudaraan dalam Makanan
Apa yang dibagikan saat ngejot? Umumnya berupa nasi, lauk pauk, kue, jajanan, hingga buah-buahan. Saat umat Hindu memperingati Galungan, mereka membagikan lawar, urap kacang panjang, dodol, dan buah-buahan. Saat Idul Fitri, umat Islam memberi opor ayam, jaje tujak, keciprut, tape ketan, hingga nasi rasun. Umat Kristen tak ketinggalan dengan kue kering dan hidangan khas Natal. Semua ini menggambarkan sukacita dalam berbagi dan keberkahan yang ingin dibagikan kepada sesama.
Lebih dari Sekadar Tradisi: Menanam Nilai Kehidupan
Ngejot bukan hanya soal memberi makanan, melainkan tentang menanamkan nilai kehidupan. Di dalamnya terdapat makna:
1. Menjalin silaturahmi dan kebersamaan antarwarga,
2. Menumbuhkan toleransi antarumat beragama,
3. Mengajarkan berbagi tanpa pamrih,
4. Menumbuhkan empati dan rasa syukur,
5. Menjadi ekspresi nyata dari syukur atas berkah Tuhan.
Tradisi ini juga dapat dijadikan sarana pendidikan karakter bagi generasi muda, khususnya peserta didik. Dengan melihat dan terlibat langsung dalam tradisi ngejot, mereka akan belajar tentang kepedulian, gotong royong, dan pentingnya hidup berdampingan secara damai.
Ngejot: Pilar Kerukunan di Lombok
Di tengah derasnya arus individualisme dan perpecahan, tradisi ngejot hadir sebagai penyejuk. Ia menjadi pilar kerukunan antarumat beragama di Lombok, bahkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Tradisi ini membuktikan bahwa dari makanan, bisa lahir kasih sayang. Dari ngejot, tercipta jalinan persaudaraan. Dan dari semangat berbagi inilah, persatuan bangsa bisa terus dijaga.
Ngejot bukan sekadar budaya, tapi jati diri masyarakat Lombok dalam menjaga keharmonisan di tengah keberagaman. Sebuah warisan lokal dengan semangat kebangsaan yang universal.
*) Penulis adalah adalah Guru PPKn SMP Negeri 17 Mataram
COPYRIGHT © ANTARA 2026