Menyongsong masa depan digital dan keberlanjutan (Bagian 3)

id 70 Tahun CIMB Niaga,Menyongsong masa depan digital ,keberlanjutan,CIMB Niaga Oleh Abdul Hakim

Menyongsong masa depan digital dan keberlanjutan (Bagian 3)

Komunitas Kejar Mimpi (KM) Mataram berkolaborasi dengan CIMB Niaga Syariah Mandalika dan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan upaya pemberdayaan UMKM salah satunya dengan cara mengelar "Business Talkshow and Workshop" di Auditorium UMMAT belum lama ini. (ANTARA/HO-KM Mataram)

Mataram (ANTARA) - Di sebuah sudut pasar di Lombok Timur, seorang pedagang tenun membuka gawainya sebelum melayani pembeli dari luar daerah. Ia tak lagi menunggu pembayaran tunai, karena transaksi bisa langsung tercatat melalui aplikasi.

Uang masuk ke rekening dalam hitungan detik, sementara catatan arus kas tersimpan rapi. Bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya, perubahan ini bukan sekadar soal kecepatan, tetapi juga rasa aman dan kesempatan untuk mengembangkan pasar lebih luas.

Transformasi digital memang telah merambah ruang-ruang paling sederhana dalam kehidupan masyarakat. Aplikasi perbankan kini tidak hanya digunakan untuk transfer atau pembayaran tagihan, tetapi juga menjadi alat investasi, tabungan emas, hingga pembiayaan modal kerja.

Di sisi lain, kehadiran agen di desa-desa membantu memperpendek jarak antara masyarakat dan akses keuangan. Petani, nelayan, atau pedagang kecil yang dulu mengandalkan uang tunai kini bisa menabung dengan cara modern, meski lokasi mereka jauh dari kantor cabang.

Bagi generasi muda, digitalisasi menghadirkan kebebasan baru. Mahasiswa di Mataram bisa membuka rekening hanya dari kamar kos, sekaligus berinvestasi kecil-kecilan dalam reksa dana atau tabungan berjangka.

Mereka tumbuh dalam ekosistem yang menempatkan layanan keuangan di ujung jari, tanpa sekat geografis. Inilah wajah baru keuangan digital yang tidak lagi terbatas pada kota besar, tetapi meresap hingga ke pelosok.

Perubahan gaya hidup ini menciptakan pengalaman nasabah yang berbeda. Transaksi yang dulu membutuhkan formulir dan antrean panjang, kini cukup dengan beberapa sentuhan layar. Efisiensi waktu memberi ruang bagi masyarakat untuk fokus pada hal yang lebih penting: membangun usaha, melanjutkan pendidikan, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga. Digitalisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, menyatu dengan ritme aktivitas masyarakat.

Baca juga: Menebar literasi digital dari kota hingga desa (Bagian 1)

Inklusi dan literasi keuangan

Kemajuan teknologi tidak akan berarti tanpa pemahaman yang memadai. Di desa-desa NTB, literasi keuangan menjadi kunci agar masyarakat mampu memanfaatkan layanan modern secara aman. Pelatihan di kampus, workshop komunitas, hingga edukasi yang digelar di sekolah atau pesantren membuka ruang belajar baru. Generasi muda diajak memahami bagaimana mengatur keuangan pribadi, mencatat transaksi, hingga merencanakan investasi sederhana.

UMKM sebagai tulang punggung ekonomi lokal turut mendapat manfaat. Dengan adanya sistem pembayaran digital, pelaku usaha bisa lebih mudah melacak penjualan, mengatur stok, dan mengakses pembiayaan. Beberapa bahkan berhasil memperluas pasar hingga luar daerah karena transaksi digital membuat pembeli merasa lebih praktis dan aman. Digitalisasi memberi mereka kepercayaan diri untuk bersaing, sekaligus mendekatkan mereka dengan konsumen baru.

Namun perjalanan menuju inklusi keuangan menyeluruh tidak tanpa tantangan. Masih ada wilayah dengan jaringan internet terbatas, serta masyarakat yang khawatir soal keamanan data. Tantangan ini diatasi dengan pendekatan ganda yakni menyediakan platform digital yang aman sekaligus menghadirkan pendampingan manusiawi. Agen dan staf cabang tetap berperan penting, bukan hanya sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai sahabat yang memberi rasa tenang.

Kisah seorang petani bawang di Bima yang kini bisa menabung hasil panennya secara digital, atau kelompok ibu rumah tangga di Sumbawa yang mengelola arisan melalui aplikasi, menunjukkan bahwa literasi dan inklusi bukan sekadar konsep, tetapi nyata hadir dalam keseharian. Setiap langkah kecil dalam memahami teknologi menjadi pijakan menuju kemandirian finansial, sekaligus memperkuat ikatan masyarakat dengan layanan perbankan modern.

Data mendukung perubahan ini. Lebih dari sembilan puluh persen transaksi nasabah kini sudah berlangsung secara digital, termasuk di Bali–Nusra. Angka tersebut mencerminkan lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menjadi bukti bahwa adopsi teknologi bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang membentuk wajah baru perbankan di Indonesia timur.

Baca juga: Cerita layanan yang menyulam kepercayaan (Bagian 2)

Keberlanjutan dan masa depan

Selain transformasi digital, arah besar lain yang tengah ditempuh adalah keberlanjutan. Dunia perbankan kini dituntut untuk tidak hanya tumbuh secara finansial, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan yang nyata. Dukungan terhadap pembiayaan hijau, proyek energi terbarukan, dan pengelolaan limbah menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Kontribusi ini sejalan dengan agenda nasional menuju Net Zero Emission pada 2060.

Di ranah sosial, pemberdayaan masyarakat tetap menjadi prioritas. Beasiswa pendidikan, pendampingan usaha kecil, serta kegiatan literasi di sekolah dan pesantren terus digulirkan. Setiap program dirancang untuk menciptakan dampak berlapis: memberi pengetahuan, membangun kemandirian, dan melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Prinsip tata kelola yang baik melengkapi pilar keberlanjutan. Transparansi, perlindungan konsumen, dan manajemen risiko dijaga untuk memastikan setiap layanan tidak hanya praktis, tetapi juga terpercaya. Kepercayaan publik menjadi fondasi yang tak tergantikan, dan keberlanjutan memperkuat fondasi itu dengan menempatkan kepentingan masyarakat sejajar dengan kepentingan bisnis.

Masa depan perbankan di Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan menjawab tantangan ganda yakni disrupsi teknologi yang semakin cepat dan kebutuhan untuk menjaga bumi tetap lestari. Generasi muda menuntut layanan serba cepat, sementara masyarakat luas membutuhkan akses inklusif. Perubahan iklim menambah dimensi baru yang harus dijawab melalui pembiayaan hijau dan inovasi sosial.

Perjalanan tujuh dekade telah menunjukkan bahwa keberhasilan lahir dari kemampuan beradaptasi. Dari layanan konvensional yang penuh kertas hingga ekosistem digital yang serba otomatis, dari cabang fisik yang menjadi pusat transaksi hingga peran agen yang menjangkau desa-desa, transformasi selalu berjalan beriringan dengan kepercayaan masyarakat. Kini, arah perjalanan itu semakin jelas: menggabungkan teknologi digital dengan komitmen keberlanjutan sebagai dua sayap yang akan membawa bank menuju masa depan.

Di usia tujuh puluh tahun, satu nama menegaskan posisinya sebagai mitra masyarakat dalam perjalanan menuju masa depan inklusif, hijau, dan berkelanjutan: CIMB Niaga.


Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.