Logo Header Antaranews Mataram

Ayam petelur jadi senjata NTB entaskan kemiskinan ekstrem

Rabu, 28 Januari 2026 15:15 WIB
Image Print
Arsip - Seorang pekerja mengambil telur-telur dari kandang ayam ras petelur milik Sahrul Alim (29), pengusaha muda yang membangun usaha ternak di atas lahan seluas satu hektare belakang rumahnya, Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Kamis (6/9). (Dhimas BP) (Dhimas BP/)

Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) membangun skema kemitraan usaha ternak ayam petelur bagi keluarga miskin ekstrem sebagai strategi makro dalam mengentaskan kemiskinan sekaligus memperkuat ekonomi desa.

"Sasaran utama program percepatan pengembangan ayam petelur adalah kepala keluarga miskin ekstrem yang berada di Desa Berdaya," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Muhamad Riadi dalam pernyataan di Mataram, Rabu.

Pemerintah NTB melalui program Desa Berdaya menargetkan pengentasan 106 desa miskin ekstrem dengan implementasi tahap pertama pada 40 desa yang menjangkau lebih dari 7.250 kepala keluarga atau sekitar 19.000 jiwa.

Belasan ribu penduduk yang tinggal di 40 desa tersebut akan didampingi secara intensif selama dua tahun.

Baca juga: Peternak Ayam NTB bergabung dengan Pinsar Petelur Nasional

Pendekatan yang digunakan adalah model graduasi, yakni proses bertahap yang memastikan rumah tangga miskin mampu keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, penguatan mata pencaharian, pemberdayaan sosial, dan inklusi keuangan

Riadi mengatakan kelompok keluarga miskin ekstrem berhak mendapatkan pembinaan dan pendampingan langsung dari pengusaha ayam petelur berpengalaman.

Skema kemitraan tersebut tidak hanya mendampingi secara teknis melainkan juga mencakup kerja sama berkelanjutan dalam penyediaan bibit, pakan, serta pemasaran hasil produksi telur.

"Hal ini diharapkan mampu menjamin keberlanjutan usaha, meningkatkan kesejahteraan peternak, serta mendukung pemenuhan kebutuhan telur ayam ras," ucap Riadi.

Baca juga: Badan Pangan Nasional mendorong kesejahteraan peternak ayam di NTB

Lebih lanjut ia menyampaikan pengembangan ayam petelur di Nusa Tenggara Barat masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain ketersediaan bibit dan pakan, stabilitas harga, permodalan, serta manajemen usaha peternakan.

Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan organisasi perunggasan rakyat untuk mendorong peningkatan populasi dan produktivitas ayam petelur secara berkelanjutan.

Program pengembangan usaha ternak ayam petelur menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa, menurunkan angka kemiskinan ekstrem, dan mewujudkan desa berdaya yang mandiri serta sejahtera.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB mencatat produksi telur ayam ras di Nusa Tenggara Barat sebanyak 41.460 ton pada 2023 dan berjumlah 49.404 ton pada 2024.

Baca juga: Gubernur NTB mencanangkan pembangunan 100 ribu pullet ayam petelur

Baca juga: Disnakeswan NTB Gulirkan Bantuan Ayam Arab Petelur

Baca juga: Disnakeswan NTB tak rekomendasikan beternak ayam ras petelur



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026